Pseudo-Sejarah; Mitos dan Kepura-puraan di Sekitar Kita

Istana Pagaruyung Terbakar. Replika Yang Terbakar, terbangun diatas puing mitos?

Ini sharing saya tentang apa yang saya namakan pseudo-sejarah atau sejarah yang penuh kepura-puraan. Tapi sebelumnya saya buat dulu disclaimer, bahwa saya bukan sejarahwan, bukan pula orang yg pernah mendalami ilmu sejarah secara akademik. Hanya blogger yang punya antusiasme secuil untuk menggali sejarah sendiri, demi mencerap budaya dan kearifan lokal nya.

Jadi begini, banyak orang menceritakan mitos di masyarakat. Terutama berbentuk folklore atau cerita rahayat yang berbasis lisan. Cerita lisan ini kemudian turun temurun dikisahkan dari mulut satu generasi ke generasi lainnya. Terbentuklah waham, atawa keyakinan bahwa mitos itu pernah terjadi dalam linimasa sejarah. Padahal yang dimaksud dengan sejarah, menurut buku pelajaran, adalah kisah atau kejadian yang tercatat dalam bentuk tertulis. Sedang kisah atau kejadian yang bermula dari cerita lisan yang tersebar di masyarakat tentu di luar dari lingkup sejarah. Kita memang lebih sering menyebutnya mitos, atau dongeng yang tingkat kebenarannya perlu dibuktikan lebih lanjut. Continue reading

Posted in Indonesiaku, Renungan, Romansa | 6 Comments

Kisah Passompe dari Sempangnge

 

Kisah Passompe dari Sempangnge
:: M. Ruslailang Noertika ::

Rumah-rumah Nelayan Mangkupalas.
Foto : M.Ruslailang Noertika.

Tradisi merantau di kalangan orang Bugis punya akar sejarah yang panjang. Salah satu bentuknya adalah tradisi perantau yang berkeliling menjajakan barang dagangan seperti sarung sutera. Citizen reporter M. Ruslailang Noertika menemui salah seorang perantau keliling yang kini sudah menetap, dan mendengarkan kisah hidupnya.(p!)

Nama lengkapnya Baharuddin Ompeng (35), asal Sempangnge, Kabupaten Wajo, Sulsel. Tapi orang memanggilnya La Cabak. Ketika saya menemuinya di Samarinda, Kaltim, ia tampak 10 tahun lebih tua. Perawakannya kecil agak membungkuk, rambutnya dibiarkan gondrong dan tak berkesan rapi. Kulitnya yang gelap mengkilap seakan menggambarkan bahwa ia telah menempuh hidup yang keras, terbakar sinar matahari dalam lima tahun terakhir, sebagai petani tambak di Muara Badak. 

La Cabak memang gesit dan tangkas, namun ia murah senyum dan senang bercanda. Kisah hidupnya sebagai passompe` (perantau) sangat tipikal: menjelajahi berbagai daerah, menghadapi berbagai tantangan sebelum akhirnya memutuskan menetap di suatu tempat yang dianggapnya paling sesuai. Continue reading

Posted in Feature, Indonesiaku, Sulawesi Selatan | 1 Comment

Karaeng Gantarang yang tak Pernah Gentar

Saya menggali kisah Karaeng Gantarang Andi Sultan Daeng Raja dari sebuah buku lama yang ditulis M Basri Padulungi. Buku tipis tentang sosok bangsawan yang dicintai rakyatnya ini diterbitkan oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan di tahun 1981 silam dan kini sudah jarang ditemukan. Sayang sekali bahan-bahan tentang sosok pahlawan nasional asal Bulukumba ini sangat kurang, padahal kisah hidupnya amat penting khususnya yang terkait dengan peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan.(p!)
Suatu siang di bulan Agustus 1916 di kantor pemerintahan Afdeling Sinjai, Sulawesi Selatan. Seorang hulppest commis pribumi tergerak bangkit dari meja kerjanya. Sang pembantu komisioner ini sayup-sayup mendengar jeritan tertahan dalam bahasa Bugis, yang diiringi suara kibasan tongkat yang bergedebuk. Jeritan itu terdengar miris di kuping sang huppest commis. Keningnya sedikit berkerut, kacamata hitam tebal yang membingkai kedua matanya kemudian diletakkan di atas buku dinasnya. Bergegas ia keluar dari kantor itu. Di halaman depan, disaksikannya satu kejadian yang meledakkan amarahnya. Seorang ambtenar Belanda memukuli seorang bumiputera dengan tongkat. Berkali-kali, hingga darah mengucur dari badan kurus itu. Dengan darah mendidih, hulppest commis pribumi itu bergerak. Tubuh ringkihnya sebenarnya tidaklah sekekar si ambtenar Belanda, namun dia tak gentar. Tak ada rasa takut dalam dadanya. Si ambtenar Belanda dihujaninya dengan pukulan sampai babak belur dan lari.  Continue reading
Posted in Indonesiaku, Sulawesi Selatan | Tagged , , , , | Leave a comment

Guru Saya Budiaman

Almarhum Guru Saya Budiaman

Barangkali, setiap media nasional ‘meributkan’ gonjang-ganjing Ujian Nasional yang sedang berlangsung, saya selalu teringat mendiang guru bahasa Inggeris saya di SMAN 1 Makassar.  Yang selalu terkenang sederhana saja, bahwa Pak Budiaman Faisal –beliau yang semoga jiwanya selalu dalam kasihNya – senantiasa mengingatkan untuk tidak menyontek. Tidak saja di mata ajaran yang beliau sajikan, tapi juga pesannya di-seluruh-kan ke mata ajaran lain.

Meski terbilang sulit bagi kami untuk ber-cas-cis-cus dalam bahasa inggeris, namun dia tak begitu ambil pusing. Setahu saya penilaian beliau bukan melulu terpaku pada hasil ujian materi kami, tapi beliau meramukan keseluruhan proses belajar mengajar. Dia tak hanya mengajar, tapi juga mendidik.  Continue reading

Posted in Indonesiaku, Renungan | 3 Comments

Pesona Historis Bukit Siguntang: Muasal Sebuah Peradaban

Pesona Historis Bukit Siguntang, Muasal Sebuah Peradaban
ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang merawat kisahnya

Taman Bukit Siguntang (sumber: terserah.byethost3.com)

ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang merawat kisahnya

Konon peradaban nusantara bermula di pesisir, bukan di perbukitan. Dari bentang pasir yang sejajar bibir lautan atau tepian sungai itu, leluhur kita memulai jejak eksistensialnya. Jejak peradaban itu terangkai kebanyakan dari kronik para pengelana yang pernah menyinggahinya. Mungkin karena renta di makan usia, atau karena tak begitu terbiasa mengabadikan kabar dalam bentuk tulisan, kita jarang menemukan jejak tulisan dari para leluhur kita kecuali sedikit saja.

Dari yang sedikit itu, perlu disyukuri bahwa ada jejak leluhur yang terawat telaten oleh alam di sebuah bukit bernama Siguntang. Peradaban yang dibangun di pesisir sungai Musi sejak abad 7M, kemudian dirawat jejaknya oleh bukit kecil ini. Ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang kemudian merawat kisahnya. Ini seumpama asmara abadi dua wajah daratan membesarkan peradaban manusia yang mendiaminya agar kekal di rentang sejarah.

Bukit Siguntang adalah sebuah jejak. Ada jejak artefak sejarah yang direkam oleh daratan yang menonjol setinggi 30meter di barat daya Palembang ini. Pesona yang sejatinya masih setia menanti untuk dipinang dalam bentuk ulasan ilmiah. Alih-alih menjadikannya sebagai tempat “keramat dengan segala horor tahayul” karena kemisteriusannya, tempat bersejarah ini sejatinya banyak memaparkan kisah memikat tentang awal sebuah peradaban besar bernama Sriwijaya. Continue reading

Posted in Feature, Indonesiaku | Tagged , , , , , , | 16 Comments

Passerpis Hempong; Makkomputer Hingga Ke Malangke

Siapa bilang komputer hanya diperlukan oleh kalangan kampus atau pegawai kantoran? Perangkat canggih untuk data processing ini rupanya tidak hanya digunakan di ruang kelas, kost-kostan atau kantor ber-AC, tapi juga dengan mudah ditemukan di kios-kios pinggiran jalan. Maraknya pemakaian telepon genggam sejak awal dekade 2000-an menumbuh-suburkan ceruk usaha sampiran di industri ini: menjadi passerpis hempong. Bahkan nun jauh hingga ke Malangke’.

Ruang reparasi handphone (Sumber: http://jj-cell.blogspot.com/)

Ini bukan pengalaman saya pribadi tentang perkenalan awal dengan Komputer, saya hanya meminjam latarnya dimana saya terlibat hanya sebagai orang kedua atau ketiga. Sebetulnya, ini cerita tentang sepupu-sepupu saya di Palopo yang mencoba turut riuh dengan teknologi canggih ini.

Di awal-awal tahun 2000-an, ketika teknologi telepon genggam tidak secerdas saat ini, telepon hanya berfungsi a la kadarnya; sebagai perangkat penerus komunikasi suara dan pesan singkat, sesekali juga  menjadi perangkat hiburan dengan games sederhana atau lagu/video berdurasi singkat di dalamnya. Meski tak seberapa cerdas, telepon ini tetap membutuhkan penanganan cerdas dari ahlinya ketika suatu waktu bermasalah. Pemilik handphone bermasalah umumnya tak berani mengutak-atik sendiri karena ketakmengertian soal teknis perangkat itu, khawatir akan malah semakin error. Mereka lebih memilih menyerahkan urusan ini ke ahlinya. Pemeo “Serahkan ke ahlinya” meminjam jargon sesumbar gubernur ibukota saat itu, rupanya menjadi pemicu tumbuh suburnya ceruk usaha baru di Palopo: menjadi Passerpis hempong – pengucapan populer di lidah penutur bugis untuk teknisi handphone! Continue reading

Posted in Feature, Indonesiaku, Sulawesi Selatan | Leave a comment

Wisata “Kembali” Ke Kampung Bugis

WISATA “KEMBALI” KE KAMPUNG BUGIS:
Meretas Jalan Bagi Penyusur Jejak Pulang

Potensi wisata dengan menyajikan kenikmatan psikologis yang mengembalikan kenangan para perantau atau keturunannya sejatinya menjadi ceruk wisata yang menarik untuk digarap. Bukankah jutaan orang Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang hendak kembali menelisik romantisme masa lalunya itu, menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi lini pendapatan pemerintah daerah di sektor wisata?

Rumah Bugis (sumber: panoramio.com)

Rentang jejak perjalanan manusia terhampar karena dua hal; memuaskan hasrat keingintahuan atau menyusuri jejak ingatan yang tertinggal. Perjalanan wisata pun terkadang didasari oleh dua hal ini, dan kesadaran membangkitkan keinginan melakukan perjalanan yang paling kuat adalah untuk merawat kenangan, mengembalikan yang terlupa, dan memelihara ingatan untuk kembali: ke kampung halaman. Setiap menjelang libur lebaran, kita menyaksikan fenomena mudik yang massif hingga menjadi bahan liputan media massa. Juga di masa-masa libur sekolah, tidak sedikit orang memilih untuk kembali ke kampung bersama keluarganya.

Sejak bangsa-bangsa yang berdiam di semenanjung selatan pulau Sulawesi riuh dalam gejolak kekerasan dan peperangan di abad 17M, jutaan orang-orang Bugis dan Makassar meninggalkan negerinya ke seluruh penjuru bumi. Sebutlah misalnya yang termaktub di kitab-kitab sejarah: Karaeng Galesong dan keturunannya di Malang, Syekh Yusuf di Banten-Srilanka-Johannesburg, anak cucu Tiga Daeng di Johor Malaysia, Kaum Angke’ di Jakarta, kaum Loloan Bugis di Bali, pasukan Wajo di Bima, keturunan Daeng Mangkona di Kalimantan Timur, dan sebagainya. Sebahagian besar diantaranya berdiaspora karena mencari tanah yang lebih layak untuk dihuni secara ekonomis dan politis dibanding kampung asalnya.

Hal ini kemudian memunculkan satu segmen baru dalam laku budaya mereka yakni tradisi merantau, terutama bagi kaum Bugis dengan istilah “massompe” (bahasa bugis: berlayar, merantau). Hingga di abad modern kini, dengan motif yang berkembang hingga dorongan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, setiap saat anak-anak dari suku bangsa deutero Melayu ini masih eksodus keluar dari negerinya.

Tradisi massompe’ kemudian melekat kuat sebagai cita-cita hampir semua lelaki di daerah ini, sekuat bayangan kesuksesan tergambar di benak mereka. Meskipun kemudian menetap dan beranak pinak di negeri rantau, namun dalam ingatan para passompe’ (bhs bugis: perantau, pelayar) ini masih tersimpan kenangan yang terawat awet, sebaik mereka menyimpan keinginan untuk menengok kembali tanah leluhurnya; menyusuri romantisme jejak pulang yang terlukis dalam bayangan mereka. Continue reading

Posted in Feature, Indonesiaku, Romansa, Sulawesi Selatan | Tagged , , , , , , | 14 Comments

Arung Palakka dan Riwayat Persekutuan 236 tahun

Lukisan Wajah Arung Palakka

Tulisan ini tak hendak ikut-ikutan memberi cap “pengkhianat” bagi bangsa Indonesia kepada sosok yang dikenal tak punya rasa takut ini “La Tenri Tatta”, sesuatu yang sejatinya tak layak disematkan mengingat nama Indonesia sendiri belum lahir saat Arung Palakka hidup. Meski Hasanuddin, seteru nya dilabeli gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia, tak serta merta kemudian menempatkan Arung Palakka di kutub berbeda.

Anak Asuhan Karaeng Pattingalloang

Bone adalah sebuah nama besar. Sejak abad 14M, nama Bone sudah digaungkan dengan berbagai macam panji kebesaran. Adalah Matasilompoé [Manurungngé ri Matajang] (1392-1424) yang tercatat dalam tarikh sebagai yang mula-mula menegakkan kerajaan di pesisir timur semenanjung Sulawesi Selatan ini. Kerajaan yang berada di bibir teluk Bone ini mulai melenggang dalam panggung sejarah Indonesia sejak abad 17 hingga di abad modern kini.

Bone, menyeruak dalam kronik penulisan sejarah nasional Indonesia sejatinya bermula pada posisi yang kurang simpatik. Ketika pertamakali menyebut nama Bone, maka ingatan sejarah kita akan memunculkan sosok Arung Palakka, Raja Bone ke-16 yang bernama lengkap Arung Palakka La Tenritatta To Ureng To-ri SompaE Petta MalampeE Gemme’na Daeng Serang To’ Appatunru Paduka Sultan Sa’adduddin Matinroe ri Bontoala (1672-1696) – sosok penting yang menjadi penyebab jatuhnya kerajaan Gowa Tallo tahun 1669. Juga tak bisa disangkal bahwa dia dan balatentara To Angke nya turut andil di bawah arahan VOC menumpas pemberontakan Minangkabau 1666 dan Trunojoyo Madura 1679. Continue reading

Posted in Indonesiaku, Sulawesi Selatan | 14 Comments

Blog dan Narasi 140 Karakter

Apakah socmed itu akan membunuh pertumbuhan blog? Saya kira tidak. Adakalanya orang tak merasa cukup dengan menggalau di-wall atau timeline yang terbatas itu. Narasi 140 karakter di twitter kadang tak cukup untuk menumpahkan ide. Orang masih akan butuh wahana yang lebih luas dan bebas.

Barangkali Gola Gong seumur-umurnya tidak pernah berpikir suatu hari akan menjejakkan kakinya di sebuah kampung di tengah gurun pasir bernama Ruwais. Namun selama dua malam di penghujung tahun 2011, penulis produktif yang juga penggagas komunitas literasi Rumah Dunia itu diundang untuk menghirup udara musim dingin Ruwais. 

Bagi yang tak tahu dimana Ruwais, ia adalah sebuah kawasan industri di utara Uni Emirate Arab, terletak di pekarangan salah satu gurun pasir (empty quarter) terluas di dunia dan menghadap ke bibir Teluk Persia. Jaraknya sekitar 8 jam perjalanan udara ditambah 2 jam perjalanan darat dari Jakarta – Abu Dhabi – Ruwais. 

Di depan ratusan peminat literasi asal Indonesia, beberapa diantaranya adalah blogger aktif, Gola Gong memantik sumbu literasi di antara antusiasme yang sejatinya sudah menggumpal lama. Workshop menulis yang digelar dua hari tersebut seperti hendak menekankan bahwa hanya satu pekerjaan paling penting di dunia sampai mesti menerbangkan dirinya melintasi bentang ribuan kilometer dari tempat tetirahnya di Serang Banten: menulis!  Continue reading

Posted in Abu Dhabi, Indonesiaku, Komunitas | 12 Comments

Tips Berdiskusi Dengan Perspektif Beda

Beberapa hari terakhir ini saya dirundung kepenatan berpikir karena mesti berdiskusi dengan tema yang sensitive, terutama karena di dalamnya terdapat perbedaan perspektif yang sangat tajam. Kecenderungan untuk tidak memperturutkan emosi kadang goyah, dan sekira tidak berusaha untuk menjalin silaturahim tentu segala macam ungkapan emosional bisa saja terumbar dengan sendirinya. Namun, menjaga kedewasaan berpikir tentu lebih mulia dan Utama dalam sebuah diskusi, disamping terhormat juga sangat bermanfaat untuk mencapai tujuan diskusi.

Beberapa diskusi yang saya terlibat di dalamnya, lebih banyak berkutat pada soal keyakinan. Yang mana agak susah mempertemukan dua hal yang pada dasarnya memiliki pijakan berbeda. Hal yang membuat hal ini ringan adalah bahwa tujuan diskusi bukanlah untuk meyakinkan lawan diskusi untuk menerima pendapat kita, tidak sampai segitu. Yang menjadi tujuan hanyalah bahwa si lawan diskusi bisa mengenal perspektif berbeda dari yang mereka yakini. Cukup mengenal dan mengetahui landasan berpikirnya saja, dan selebihnya silahkan mereka meneruskan penggaliannya sendiri. Baik dalam ber-tafakkur ataupun melakukan telaah literature untuk menguji kembali keyakinan yang dia miliki. Continue reading

Posted in Islamku, Renungan | 7 Comments