WISATA “KEMBALI” KE KAMPUNG BUGIS:
Meretas Jalan Bagi Penyusur Jejak Pulang
Potensi wisata dengan menyajikan kenikmatan psikologis yang mengembalikan kenangan para perantau atau keturunannya sejatinya menjadi ceruk wisata yang menarik untuk digarap. Bukankah jutaan orang Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang hendak kembali menelisik romantisme masa lalunya itu, menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi lini pendapatan pemerintah daerah di sektor wisata?

Rumah Bugis (sumber: panoramio.com)
Rentang jejak perjalanan manusia terhampar karena dua hal; memuaskan hasrat keingintahuan atau menyusuri jejak ingatan yang tertinggal. Perjalanan wisata pun terkadang didasari oleh dua hal ini, dan kesadaran membangkitkan keinginan melakukan perjalanan yang paling kuat adalah untuk merawat kenangan, mengembalikan yang terlupa, dan memelihara ingatan untuk kembali: ke kampung halaman. Setiap menjelang libur lebaran, kita menyaksikan fenomena mudik yang massif hingga menjadi bahan liputan media massa. Juga di masa-masa libur sekolah, tidak sedikit orang memilih untuk kembali ke kampung bersama keluarganya.
Sejak bangsa-bangsa yang berdiam di semenanjung selatan pulau Sulawesi riuh dalam gejolak kekerasan dan peperangan di abad 17M, jutaan orang-orang Bugis dan Makassar meninggalkan negerinya ke seluruh penjuru bumi. Sebutlah misalnya yang termaktub di kitab-kitab sejarah: Karaeng Galesong dan keturunannya di Malang, Syekh Yusuf di Banten-Srilanka-Johannesburg, anak cucu Tiga Daeng di Johor Malaysia, Kaum Angke’ di Jakarta, kaum Loloan Bugis di Bali, pasukan Wajo di Bima, keturunan Daeng Mangkona di Kalimantan Timur, dan sebagainya. Sebahagian besar diantaranya berdiaspora karena mencari tanah yang lebih layak untuk dihuni secara ekonomis dan politis dibanding kampung asalnya.
Hal ini kemudian memunculkan satu segmen baru dalam laku budaya mereka yakni tradisi merantau, terutama bagi kaum Bugis dengan istilah “massompe” (bahasa bugis: berlayar, merantau). Hingga di abad modern kini, dengan motif yang berkembang hingga dorongan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, setiap saat anak-anak dari suku bangsa deutero Melayu ini masih eksodus keluar dari negerinya.
Tradisi massompe’ kemudian melekat kuat sebagai cita-cita hampir semua lelaki di daerah ini, sekuat bayangan kesuksesan tergambar di benak mereka. Meskipun kemudian menetap dan beranak pinak di negeri rantau, namun dalam ingatan para passompe’ (bhs bugis: perantau, pelayar) ini masih tersimpan kenangan yang terawat awet, sebaik mereka menyimpan keinginan untuk menengok kembali tanah leluhurnya; menyusuri romantisme jejak pulang yang terlukis dalam bayangan mereka. Continue reading →