Mudik adalah ritual. Ini menurut sebahagian besar perantau yang masih punya keterikatan emosional dengan kampung yang membesarkannya. Setiap periode tertentu, mereka pulang untuk mencicil kerinduan dan menapak tilasi kenangan yang tersimpan bertahun-tahun di benak mereka. Kenangan yang sulit atau enggan mereka hilangkan begitu saja, karena menyangkut banyak hal yang turut membangun peradaban individualnya. Tentang tempat, masa dan orang-orang yang masuk dalam bentara kedalaman perjalanan hidupnya.
Mudik bukan melulu karena hari perayaan tertentu. Tapi sejatinya mudik adalah berkumpul kembali. Mencoba merajut kembali apa yang terberai, mengikat kembali yang terserak, meski hanya untuk beberapa saat. Di momen yang sama, beberapa orang akan memanfaatkan mudik untuk menyambung kembali silaturahmi, melenturkan yang tegang dan mencairkan yang beku. Tiang-tiang keangkuhan mungkin akan direbahkan saat itu, berganti rupa menjadi maaf yang tulus. Tidak ada hubungan yang lekang karena permusuhan, karena bara api dendam itu tak punya keabadian.
Tahun ini saya juga merayakan ritual mudik sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Menyandang status perantau sejak tahun 1994, selepas masa SMA, saya punya ritual tahunan untuk kembali menjejak kampung atau kota asal, Makassar, Wajo dan yang terkini, Palopo. Mudik tahun ini agak khusus, karena mesti melanglang samudera dan benua yang jauh, memulai dari negeri Arab menuju Palopo. Menunggangi waktu yang tak singkat, dan menyinggahi beberapa kota untuk menitip silaturahmi juga.
Karena lebih jauh, saya mengambil waktu cuti semaksimal mungkin, sekitar 40 hari. Mulai berangkat dari Abu Dhabi akhir Juli 2011, dan kembali lagi ke Abu Dhabi pecan pertama September 2011. Dari Abu Dhabi saya menjejak Bogor selama 3 hari, kemudian lanjut ke Bali, liburan khusus pertama kami sekeluarga, selama 6 hari, kemudian ke Makassar dan terakhir di Palopo. Hal yang paling penting untuk dicatat adalah bahwa mudik kali ini juga diselingi dengan resepsi pernikahan adik bungsu kami tercinta.






wah, kalo tau ke bali sih kami bisa siapkan sambutan khusus dari blogger bali. biar sekalian kecipratan oleh2 dari abu dhabi.
haha, iya ya. padahal sempet 6 hari tuh di kuta
Wah, inspirasi juga buat saya tulisan daeng ini. Saya mudik lebaran kemaren pakai kapal TNI angkatan laut. Asik dan menyenangkan.
wah, bagaimana tuh ceritanya boss..
saya dengar klo pake vessel nya militer bakal banyak cerita serunya, termasuk nyasar kemana-mana dulu
iri banget saya, bisa cuti 40 hari begitu. hehehe
Lebih iri lagi klo kerja di tempat2 liburan