Parachinar (was: Dera Ghazi Khan)

Sebelumnya saya tak menyangka bahwa identitas itu sangat berpengaruh dalam pergaulan keseharian di negeri minyak ini. Di Abu Dhabi yang lebih dari 70% penduduknya adalah pendatang, keragaman sudah menjadi keniscayaan. Negeri ini membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun infrastruktur, juga menggerakkan roda perekonomian yang sebahagian besar ditopang oleh industry perminyakan.

Penduduk lokal yang hanya sejumlah 300,000 jiwa tidak mampu mengerjakan semua hal, disamping karena mereka sudah terlahir kaya karena subsidi pemerintah yang melimpah (GDP USD 50,000/tahun). Alhasil, penduduk pendatang dengan jumlah lebih dari 700,000 atau 70% dari berbagai negara mendominasi negeri ini. Yang terbanyak diantaranya adalah: warga India, Pakistan, Pilipina dan warga arab lain terutama dari mesir, syria dan jordan. Indonesia? Hanya maksimal sekitar 10ribuan dan umumnya bekerja sebagai housemaid.

Masing-masing penduduk biasa mengenakan identitas uniknya, penduduk lokal dengan busana terusan kondura putih (gamis panjang) lengkap dengan sorban untuk laki-laki dan abaya hitam (jilbab dan gaun panjang), penduduk india dan Pakistan mengenakan Kurta (gamis panjang warna cerah). Disamping itu identitas juga bisa ditilik dari bentuk wajahnya. Tentu dengan cepat bisa kita bedakan mana yang berwajah arab, western, asia selatan, atau asia tenggara. Saya dengan wajah melayu ini lebih sering disangka Pinoy (orang philipina) atau kadang Jepang/Korea.

Nah, identitas apa yang hendak saya hubungkan dengan judul diatas? Pernah dengar nama Parachinar Dera Ghazi Khan? Tidak? Sama, terus terang saya juga baru dengar nama ini belakangan ini.

Dera Ghazi Khan Parachinar adalah nama salah satu kota paling barat laut di Pakistan, masuk dalam propinsi FATA.

Di negeri Abu Dhabi ini, saya banyak menemui supir taxi yang berasal dari negeri ini Parachinar, terutama beberapa hari belakangan. Saya bisa mengidentifikasi mereka dari nama yang tertera di layar monitor argometer taxi mereka.

Nama-namanya sangat khas. Biasanya selalu ada nama Imam ahlulbayt disana; Javad, Hussain, Ridha, Baqir, Taqi dan lain-lain. Seperti pagi ini dan pekan lalu, saya bertemu dan biasanya mengajak mereka ngobrol sepanjang perjalanan.

Ahad malam lalu, saya menumpang taxi dari Mussaffah selepas mengikuti kelas teori di Emirate Driving Centre, pengemudinya seorang yang tampaknya murah senyum. Namanya Syed Subair Hussain. Saya bilang ke dia, dari nama anda saya bisa tebak anda dari Pakistan dan seorang syiah. Dia surprise dan seperti sangat senang dengan tebakan saya. Selanjutnya banyak informasi yang dia berikan seputar dirinya dan kampungnya, Parachinar yang seluruh penduduknya adalah Muslim Syiah. Yah, perlu dimaklumi memang karena distrik Parachinar ini adalah distrik yang berbatasan langsung dengan Iran, negara islam syiah satu-satunya di dunia.

Tadi pagi, Syed Subair Hussain, supir taxi dari distrik yang sama mengantar saya dan Mahdi ke sekolah kemudian ke kantor. Di perjalanan kami ngobrol bareng terutama soal nama imam ahlulbayt yang bertengger di namanya. Dia begitu terkejut dan menurutnya, bahagia mendapatkan penumpang seperti saya. Saking bahagianya, dia menolak uang Dhs 20 taxi yang saya berikan, hanya meminta nomor telp. Meski sedikit memaksa, dia tetap menolak uang saya. Akhirnya saya berikan nomor telpon berikut kartu nama saya.

Alhamdulillah, persaudaraan berlatar identitas lintas bangsa seperti ini sungguh menyenangkan. Semoga saya bertemu lagi dengan mereka sesering mungkin, bukan karena berharap dapat tumpangan gratis tapi karena pancaran persaudaraan tulus yang terlihat dari senyum dan binar mata mereka yang bersemangat. Meski wajah melayu saya sangat berbeda dengan mereka. (Lihat postingan Wajah Melayu di Mesjid Syiah).

Suatu saat, insya Allah, saya perlu meluangkan waktu untuk berkunjung ke Parachinar yang dialiri sungai Indus, sungai terkenal yang disebut2 dalam banyak kitab kuno. Meski harus berhati-hati karena rupanya distrik ini menjadi tempat pangkalan reactor nukir Pakistan dan beberapa kali terjadi kekerasan bersenjata, somehow dan sangat disayangkan.

Post note: rupanya saya salah mengira, yang tadinya saya anggap daerah itu bernama Dera Ghazi Khan, rupanya yang betul adalah Parachinar.

Share This Post

Related Articles

3 Responses to “Parachinar (was: Dera Ghazi Khan)”

  1. erwinrumi says:

    Dera Ghazi Khan, Belum pernah dengar nama Kota itu, di saudi ini juga banyak org pakistan dan india jadi supir, tapi rata2 datang dari karachi atau Kerla (india)., mereka mmg org2 yg bersahabat..

  2. daengrusle says:

    iya, bersahabat dan selalu ceria.
    disini juga banyak orang kerla dan mereka bahagia kalo tahu kita juga muslim, terutama karena muka saya terlihat sangat mirip pinoy…hehehe

  3. indobrad says:

    aaaaaaaaargh, membaca postingan ini jadi pengen berkunjung ke sana. kaum yang ramah dan menjunjung tinggi persaudaraan serta melindungi mehman (tamu) dengan segenap kekuatan.

    thanks for sharing :D

Leave a Reply

© 2013 daengrusle. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie