<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>daengrusle</title>
	<atom:link href="http://www.daengrusle.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.daengrusle.net</link>
	<description>Hanya Sekadar Memanjangkan Ingatan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Apr 2013 08:32:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>PASUKAN RAMANG: Teaser Posternya</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/pasukan-ramang-teaser/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/pasukan-ramang-teaser/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 17:31:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[#PasukanRamang]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[Ramang9]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1304</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, teaser awal sudah beredar. Untuk foto lebih besar bisa di klik di link ini. Berita lain seputar pembuatan film dokumenter panjang ini, silahkan buka Web Pasukan Ramang.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, teaser awal sudah beredar. Untuk foto lebih besar bisa di klik di <a href="http://t.co/OgoKGCfiSi" target="_blank">link ini</a>.</p>
<p>Berita lain seputar pembuatan film dokumenter panjang ini, silahkan buka <a href="http://ramang9.com/" target="_blank">Web Pasukan Ramang</a>.</p>
<div id="attachment_1305" class="wp-caption aligncenter" style="width: 727px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/teaser-PASUKAN-RAMANG.jpg"><img class=" wp-image-1305 " alt="Teaser Pasukan Ramang - (design by @asnurSV photo by @aiwajdi) pic.twitter.com/OgoKGCfiSi" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/teaser-PASUKAN-RAMANG.jpg" width="717" height="1043" /></a><p class="wp-caption-text">Teaser Pasukan Ramang &#8211; (design by @asnurSV photo by @aiwajdi) pic.twitter.com/OgoKGCfiSi</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/pasukan-ramang-teaser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Saraila, Sang Legenda Dunia Kelam Makasar</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/tata-saraila-sang-legenda-dunia-kelam-makasar/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/tata-saraila-sang-legenda-dunia-kelam-makasar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 11:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>
		<category><![CDATA[Preman]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Saraila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1292</guid>
		<description><![CDATA[Kisah tentang Tata Saraila kini memudar. Tak banyak lagi orang-orang mengingatnya, kecuali beberapa kilas. Bagi yang masih mengingatnya tentu tak lain karena bertaburnya cerita seram terutama tentang mitos perilaku menyimpang yang membuat anak-anak lelaki usia sekolahan bergidik. Sang Tata pernah menjadi salah satu ikon paling menakutkan di Makassar tahun 1980an. Kini, ia hidup dalam dunia yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Kisah tentang Tata Saraila kini memudar. Tak banyak lagi orang-orang mengingatnya, kecuali beberapa kilas. Bagi yang masih mengingatnya tentu tak lain karena bertaburnya cerita seram terutama tentang mitos perilaku menyimpang yang membuat anak-anak lelaki usia sekolahan bergidik. Sang Tata pernah menjadi salah satu ikon paling menakutkan di Makassar tahun 1980an. Kini, ia hidup dalam dunia yang putih, seputih rambutnya yang kini beruban.</em></p>
<div id="attachment_1294" class="wp-caption alignnone" style="width: 429px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Tata-Saraila-2013.jpg"><img class=" wp-image-1294  " alt="Tata Saraila di usia senja - kanan berbaju kuning (foto dikuti dengan izin dari @sushibizkid)" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Tata-Saraila-2013.jpg" width="419" height="562" /></a><p class="wp-caption-text">Tata Saraila di usia senja &#8211; kanan berbaju kuning (foto dikutip dengan izin dari @sushibizkid) &#8211; berfoto bersama salah satu penggiat MUFC Makassar</p></div>
<p style="text-align: justify;">Di suatu siang yang terik di tahun 1988, saya melintasi kawasan Pusat Pertokoan Ujungpandang bersama seorang kawan. Ketika itu saya masih tercatat sebagai siswa kelas satu di salah satu SMP negeri di bilangan Pecinan Makassar. Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar teriakan bernada mengejutkan. “Whoaaaaaa!” Suara itu berat dan terkesan sangar. Seketika kawan saya berteriak “Tata Sarailaaaaa!. Saya bergidik, secepat mungkin berlari menjauhi pemilik suara. Sang kawan sudah jauh berada di depan, dan saya terengah-engah menyusulnya, menyeberangi hilir mudik pete-pete yang lumayan padat di jam makan siang itu. Ketika mencapai jalan Timor dan kemudian setengah berlari masuk ke jalan Bali, saya sudah merasa aman. Kawan saya menunggu depan Makassar Theatre, salah satu bioskop terkenal di Makassar saat itu. Sudah aman rupanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi pengalaman singkat itu menyimpan trauma yang tak lekang hingga kini. Bukan karena ketakutan mendengar teriakan seram nan berat itu, tapi karena kisah seram di balik sosok Tata Saraila yang belakangan baru saya dapatkan dari obrolan kawan-kawan dan kakak saya.</p>
<p>==</p>
<div id="attachment_1296" class="wp-caption alignnone" style="width: 522px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/pusat-pertokoan-Sentral-Jaya.jpg"><img class="size-full wp-image-1296 " alt="Toko Sentral Jaya, salah satu ujung Pusat Pertokoan yang masih bertahan (foto dari http://www.skyscrapercity.com/)" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/pusat-pertokoan-Sentral-Jaya.jpg" width="512" height="336" /></a><p class="wp-caption-text">Toko Sentral Jaya, salah satu ujung Pusat Pertokoan yang masih bertahan (foto dari http://www.skyscrapercity.com/)</p></div>
<p style="text-align: justify;"><i>Gondrong Baluta’.</i> Demikian anak-anak sekitaran Pusat Pertokoan Makassar menyebut sosok preman sangar itu.  Gondrong baluta’ mengindikasikan rambut gondrong yang dibiarkan tumbuh panjang tak terurus. Sekujur tubuhnya dilukisi tatto dengan segala macam gambar, paling banyak mungkin rajah dengan bentuk yang menakutkan, tengkorak, ular atau naga. Jari dan lengannya  juga dihiasi dengan asesoris cincin akik besar dan gelang hitam. Tahun 1980-an ketika Pusat Pertokoan masih ada, Tata Saraila dikenal menguasai kawasan pusat perniagaan kota yang saat itu masih bernama Ujungpandang.<span id="more-1292"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Selain berprofesi sebagai preman yang gemar berkelahi dan memalak, juga berkembang cerita bahwa sang Tata suka menculik anak laki-laki untuk kemudian digauli. Mitos ini yang berkembang paling santer dari mulut ke mulut, namun dari sekian cerita yang saya dengarkan tak ada satupun yang bisa mengkonfirmasi kebenarannya. Semuanya hanya desas-desus yang berhembus seperti angin musim kemarau; panas, menyengat dan tapi bekasnya tak gampang hilang. Membekas hingga ke ingatan dan dianggap mitos yang mengandung kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Desas-desus tentang Tata yang <i>hombreng</i> (homo, penggaul sesama lelaki) ini menyebar ke semua sekolah-sekolah yang berada di sekitar Pusat Pertokoan. Setelah mendengar kisah ini, saya kemudian nyaris berhenti melalui pusat pertokoan dan memilih untuk mengambil jalur lain. Apalagi banyak yang bercerita bahwa sang Tata berkeliaran di jam-jam pulang sekolah, sekitar jam makan siang, dan korbannya yang paling disukai adalah anak-anak SMP. Saya yang saat itu kebagian masuk siang, tentu mesti waspada. Kalau tak terpaksa atau ditemani seseorang, tak mungkin saya melewati kawasan menyeramkan itu.</p>
<p>==</p>
<div id="attachment_1297" class="wp-caption alignnone" style="width: 429px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Tata-Saraila-sekawan.jpg"><img class=" wp-image-1297 " alt="Tata Saraila (tengah bercelana merah) bersama kawan-kawannya saat masih muda" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Tata-Saraila-sekawan.jpg" width="419" height="562" /></a><p class="wp-caption-text">Tata Saraila (tengah bercelana merah) bersama kawan-kawannya saat masih muda (foto dari koleksi Tata Saraila, oleh @ramabizkid)</p></div>
<p style="text-align: justify;">Kisah tentang Tata Saraila kemudian memudar. Tak banyak lagi orang-orang mengingatnya, kecuali beberapa kilas. Bagi yang masih mengingatnya tentu tak lain karena cerita seram itu, yang menjadi salah satu sosok menakutkan<i> </i>di kalangan dunia hitam Makassar tahun 1980an. Sebagaimana yang jamak dipahami di Makassar dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, premanisme dan pasar seperti dua mata uang yang seakan tak bisa dipisahkan. Di Jakarta, kita mengenal Hercules yang menguasai Tenahbang, John Kei yang menguasai Kampung Ambo. Beberapa tahun silam di zaman revolusi, juga ada nama Bang Pi’i yang pernah menguasai Pasar Senen, belakangan preman yang bernama asli Imam Syafei ini diangkat menjadi menteri urusan keamanan Jakarta oleh pemerintahan Soekarno. Di zaman modern ini, preman mulai memperluas kekuasaannya ke tempat hiburan malam dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Premanisme memang sebentuk penyakit sosial yang menggerogoti keamanan masyarakat. Namun ternyata banyak pihak yang membutuhkannya, terutama bagi pemilik usaha yang tak mau berurusan dengan keamanan. Maka disewalah preman untuk mengurus hal ini, termasuk menghadapi aparat yang juga kerap menuntut pembagian keuntungan dari usaha ini. Rentetan perang antar preman, juga melawan Kopasus beberapa saat lalu di Jakarta dan Jogja hanya salah satu contoh dari pertarungan tingkat otot dan senjata ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain berhadapan dengan aparat, konon sejumlah preman malah dipelihara dan di-backup petinggi aparat. Banyak rumor yang beredar bahwa Prabowo, mantan Danjen Kopasus itu sangat berkarib dengan Hercules. Juga Pamswakarsa, organisasi bentukan Jendral Wiranto menjelas pemilu 1999, konon adalah sekumpulan preman yang diorganisir dengan label ormas berlatar agama tertentu. Kadang-kadang demi melegalisasi kegiatannya, preman juga bergabung dengan ormas-ormas pemuda nasionalis dan berafiliasi ke organisasi politik tertentu. Selain aman melakukan kegiatannya, mereka juga mendapat dukungan sekaligus <i>bargaining</i> <i>position</i> ke <i>client</i>-nya. Tata Saraila juga berafiliasi dengan ormas kepemudaan nasionalis. Dalam salah satu fotonya, tampaknya dia menikmati fasilitas ini, berkawan dengan Pimpinan Pemuda Pancasila : Yapto Soejosoemarno yang juga memimpin Partai Patriot.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun sejak akhir 1990-an, seiring dengan terbakar dan musnahnya Pusat Pertokoan, nama Tata Saraila mulai senyap. Rajah yang menghiasi kulitnya tak lagi sangar, melumer bersama kulit dan ototnya yang tak lagi kencang. Di hari-hari yang menjelang senja, sang Tata menghabiskan sisa usianya di sebuah panti bernama Tresna Werdha yang berlokasi di jalan Poros Malino Makassar. Kebetulan seorang kawan di twitter (papabizkid ‏@ramabizkid ) berbagi foto-foto sang mantan preman hingga ke foto-foto koleksi pribadinya di jaman keemasan dulu. Luar biasa, sosok yang dulu menakutkan dengan cambang, tatto dan rambut gondrong baluta’ kini seperti seorang renta yang pias dengan senyum hangat seperti seorang kawan yang lama tak bersua. Senyum hangatnya seperti menghapus jejak sangar di wajahnya, bertahun-tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tata Saraila, legenda dunia hitam kota Makassar tahun 1980-an itu kini hidup dalam dunia yang putih. Dunia dengan rambut putih keperakan bersama kawan-kawan usia senjanya sesama penghuni panti Tresna Werdha. Kisah kelamnya mungkin tak elok untuk dijadikan dongeng untuk anak-anak, tapi sosoknya layak untuk dikisahkan sebagai salah satu <i>urban legend</i> kota Makassar.</p>
<div id="attachment_1298" class="wp-caption alignnone" style="width: 429px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Tata-Saraila-ormas.jpg"><img class=" wp-image-1298 " alt="Tata Sariala bersama pimpinan Pemuda Pancasila Yapto SoerjoSoemarno - koleksi Tata Saraila dari @ramabizkid)" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Tata-Saraila-ormas.jpg" width="419" height="562" /></a><p class="wp-caption-text">Tata Sariala bersama pimpinan Pemuda Pancasila Yapto SoerjoSoemarno &#8211; koleksi Tata Saraila dari @ramabizkid)</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1300" class="wp-caption alignnone" style="width: 429px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/dgn-Anak.jpg"><img class=" wp-image-1300 " alt="Tata Saraila menggendong cucunya (foto koleksi pribadi Tata Saraila dari @ramabizkid)" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/dgn-Anak.jpg" width="419" height="562" /></a><p class="wp-caption-text">Tata Saraila menggendong cucunya (foto koleksi pribadi Tata Saraila dari @ramabizkid)</p></div>
<p>==</p>
<p>Kisah diatas hanya sekelumit cerita yang saya dapatkan dari ingatan-ingatan yang terserak. Mungkin banyak yang tak benar atau sekadar mitos yang tak bisa dibuktikan kebenarannya. Kalau diantara kawan ada yang punya cerita lainnya tentu akan sangat berarti untuk memperbaiki kenangan kita tentang sang Tata. Terimakasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/tata-saraila-sang-legenda-dunia-kelam-makasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Tangguh Dari Kartini</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/lebih-tangguh-dari-kartini/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/lebih-tangguh-dari-kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Apr 2013 02:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1285</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga. Sudah saatnya pemerintah  Indonesia mengakomodir pucuk-pucuk sosok lokal, termasuk melakukan koreksi atas klaim-klaim yang berbau jawa sentris seperti pengkultusan sosok Kartini ini. Masih banyak sosok lain yang lebih tangguh mewakili keluhuran budaya dan perjuangan bangsa, semisal sosok Colliq Pujie, pejuang dan sastrawan asal Bugis. == [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tulisan ini diikutkan pada <a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-minggu-ketiga/">8 Minggu Ngeblog</a> bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;"><b><i>Sudah saatnya pemerintah  Indonesia mengakomodir pucuk-pucuk sosok lokal, termasuk melakukan koreksi atas klaim-klaim yang berbau jawa sentris seperti pengkultusan sosok Kartini ini. Masih banyak sosok lain yang lebih tangguh mewakili keluhuran budaya dan perjuangan bangsa, semisal sosok Colliq Pujie, pejuang dan sastrawan asal Bugis.</i></b></p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class=" " alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-fq1hahwx2K8/T5DpgM6CPBI/AAAAAAAAAxE/ghLwbjHeu0c/s1600/Kartini21+2012+1.jpg" width="500" height="333" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (sumber: sijarangpulang.wordpress.com)</p></div>
<p style="text-align: justify;">==</p>
<p style="text-align: justify;">Kartini adalah monumen sejarah yang dirawat secara bersama dan berkelanjutan oleh rangkaian penguasa negeri ini. Sosok perempuan asal Rembang ini dipuja-puji tidak saja oleh penjajah asing, tapi juga pemerintah paska penjajahan. Sejak sosoknya dipopulerkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan politik etisnya, pemerintah Jepang turut pula mengharumkan namanya dengan memulai tradisi perayaan hari lahirnya sebagai hari Kartini sejak tahun 1944.  Upaya ini semakin dilestarikan oleh pemerintah Indonesia di masa Soekarno, Orde Baru hingga Orde Reformasi kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Namanya makin harum dengan lagu, buku dan dihelatnya perayaan untuk mengingat “perjuangan” putri kelahiran Jepara ini. Melalui hari Kartini, bangsa negeri ini mengenal tradisi anak-anak putri yang berkebaya dan berkonde – sesuai dengan busana Kartini yang dikenal luas dalam semua potretnya, dan mengheningkan cipta untuk sang pejuang emansipasi. Meski telah ditahbiskan sebagai pahlawan, namun kontribusi nyatanya ke perjuangan kemerdekaan Indonesia masih dipertanyakan hingga kini. Ada banyak pejuang perempuan Indonesia yang se-zaman bahkan lebih dahulu dan lebih tangguh dari Kartini namun terkesan senyap di lintas sejarah Indonesia dan tak diistimewakan seperti laiknya Kartini.</p>
<p><b>Mengapa Kartini Saja</b></p>
<p style="text-align: justify;">Kartini muncul di saat yang tepat, ketika pemerintah penjajah Belanda sedang menggiatkan politik etis. Ideologi politik yang juga dikenal sebagai politik Balas Budi ini dicetuskan pertama kali oleh Van Deventer (w. 1915) dan lantas dikukuhkan oleh Ratu Belanda Wilhelmina yang naik tahta tahun 1901, dengan maksud untuk lebih memerhatikan kondisi penduduk negeri jajahan termasuk Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia saat itu.<span id="more-1285"></span></p>
<p style="text-align: justify;">JH Abendanon yang menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan pada pemerintahan Hindia Belanda periode 1900-1905 menemukan sosok perempuan Rembang, RA Kartini yang layak dimonumenkan sebagai citra keberhasilan Politik Etis yang dianut pemerintahannya. Oleh JH Abendanon, surat-surat Kartini yang dikirimkan ke beberapa sahabat penanya di Eropa dikumpulkan dan diterbitkan di Belanda pada tahun 1911 dengan tajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalangan akademisi Eropa kemudian sumringah dan berdecak kagum atas keberhasilan Belanda mendidik perempuan di tanah jajahannya. Buku ini kemudian menjadi monumen abadi bagi buah pikiran Kartini yang dianggap memperjuangkan semangat kesetaraan kaum perempuan di masanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, surat-surat asli Kartini tak pernah ditemukan. Verifikasi kebenaran buah pikiran RA Kartini ini menghadang tembok gelap bersama sosok Abendanon – yang semasa menjadi pejabat Hindia Belanda menjalin keakraban dengan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang merancang penaklukan Aceh 1902-1904. Tak ada satupun ahli waris Abendanon yang berhasil menemukan transkrip surat aslinya. Buku yang memuat “tulisan” Kartini hanyalah merupakan transliterasi yang dilakukan oleh Abendanon sendiri. RA Kartini pun tak bisa memvalidasi karena wafat sebelum buku itu terbit. Sejarah Indonesia kehilangan bukti otentik untuk satu titik sejarah yang teramat penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Kartini yang membuka kursus keterampilan bagi perempuan ningrat Rembang tahun 1904, juga tak bisa dianggap sebagai pelopor pendidikan perempuan. Ada sosok lain yang jauh lebih mula dengan cakupan yang lebih luas. Dewi Sartika, tokoh perempuan asal Bandung, merintis sekolah perempuan bernama Sakola Istri lebih dulu di Bandung pada 1902. Juga ada sosok ratu cendekia asal Tanete, We Tenri Olle, yang mendirikan sekolah di Tanete tahun 1890an. Sekolah yang dihelat ratu Bugis yang memerintah selama 55-tahun ini bahkan memiliki cakupan lebih luas karena mendidik anak-anak lelaki dan perempuan dari berbagai kalangan, bangsawan ataupun jelata tanpa pembedaan. Sedang Kartini, sekolah yang dibentuknya hanya untuk kalangan perempuan ningrat di kraton adipati Rembang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana sikap Kartini terhadap penjajahan? Hal ini juga menjadi sebuah anakronisme dalam pendefinisian pahlawan. Pahlawan kemerdekaan mestinya adalah sosok yang berjuang melawan pihak yang mengangkangi kedaulatan negeri, namun hal ini tak ditemukan pada sosok Kartini. Alih-alih menunjukkan permusuhannya kepada Belanda, Kartini bahkan menjalin keakraban dengan tokoh-tokoh Belanda yang turut melestarikan cengkeraman penjajahan atas negerinya. Beberapa sejarahwan bahkan menganggap bahwa Kartini lebih Belanda ketimbang sebagai putri Jawa pribumi. Buku-buku yang dilahap Kartini semasa muda, dan perkawanannya yang erat dengan teman-temannya di Eropa mengindikasikan hal ini. Padahal, banyak juga perempuan Indonesia sezamannya yang bisa menjadi rujukan bagi RA Kartini sekira mau.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga menjadi kenyataan yang menarik bahwa Kartini, ternyata berkenan menjadi istri keempat Bupati Rembang Adipati Djojo Adhiningrat, yang belakangan memfasilitasi kegiatan Kartini menggelar kursus keterampilan. Para pendukung emansipasi dan feminisme mesti menemukan bahasan menarik antara dua hal yang berbeda kutub ini; kesetaraan hak perempuan dan ihwal penerimaan atas praktek poligami.</p>
<p><b>Yang Lebih Tangguh dari Kartini</b></p>
<p style="text-align: justify;">Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia disematkan pada RA Kartini melalui Keppres Nomor 108 Tahun 1964 oleh pemerintahan Soekarno. Perayaan kelahirannya sebagai Hari Kartini juga dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia secara seragam dan menyeluruh ke seantero republik.</p>
<p style="text-align: justify;">Kartini memang sangat populer di Jawa saat itu, namun tidak demikian di negeri lain di nusantara. Di masing-masing daerah, mereka menyimpan kenangan tersendiri tentang sosok pejuang perempuan yang layak dikagumi. Kronik sejarah negeri permai ini sudah lama dihiasi tangan lembut-tegas para pejuang perempuannya. Dengan meminjam parameter pahlawan yang disepakati bersama; anti-penjajahan berikut perjuangan melawan penjajah, serta warisan karya dan buah pikiran bermanfaat yang berpengaruh hingga ke generasi kini, Kartini bukanlah sosok yang paling layak dikedepankan sebagai pahlawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum masa Kartini, Aceh sudah memiliki pejuang perempuan tangguh bernama Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, dan Cut Meutia. Maluku juga punya Maria Kristina Tiahahu, sedang Minangkabau punya Siti Manggopoh. Deretan nama itu hanya beberapa dari sekian banyak sosok pejuang perempuan di daerah. Kesemuanya adalah pejuang perempuan yang tak hanya bertempur bersama alam pikirnya, tapi juga ikut mengorbankan harta dan bahkan raganya. Mereka punya dimensi hidup sebagai pejuang yang lengkap.</p>
<p><b>Arung Pancana Toa Ratna Kencana Colliq Pujie</b></p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Bugis sendiri punya seorang perempuan pejuang yang layak dikedepankan: Arung Pancana Toa Ratna Kencana Colliq Pujie. Sosok bangsawan Tanete berdarah melayu ini sesungguhnya punya matra perjuangan yang lebih lengkap; menentang Belanda secara diametrikal dengan menjadi pendukung utama pemberontakan rakyat Tanete tahun 1855, dan juga menjadi sastrawan yang produktif menulis dan menyalin jejak budaya Bugis terutama dalam penulisan ulang <i>sureq</i> La Galigo dalam 12 jilid yang memuat hingga 300,000 bait dan dianggap sebagai mahakarya sastra terpanjang di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Epos La Galigo yang kini bisa dinikmati oleh generasi kita, merupakan buah jerih payah Colliq Pujie dalam mengumpulkan dan menuliskan ulang cerita rakyat Bugis yang sakral ini. Tak mudah meng-akses <i>sureq</i> La Galigo yang oleh sebahagian masyarakat Bugis masih dianggap sebagai tulisan suci yang tak sembarang orang mampu membacanya apalagi memahami maksudnya. Tapi Colliq Pujie tak hanya mampu membumikan makna dari tetulisan sakral itu, tapi juga menuliskan dan mengumpulkan dari ribuan manuskrip yang terserak di istana-istana raja Bugis maupun yang terekam dalam ingatan para tetua.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain menulis ulang La Galigo, Colliq Pujie juga menghasilkan karya lain yang masih bisa dibaca hingga kini, semisal <em>Lontarakna Tanete, Syair Sarea Baweng, Sureq Panrita Sulessanae</em> dan menyalin ulang <em>La Toa</em>, naskah kuno berisi petuah bijaksana raja Bone tentang bagaimana menjalankan pemerintahan yang adil. Colliq Pujie juga dengan cerdas menciptakan aksara bilang-bilang, yang merupakan modifikasi dari aksara lontara dan arab. Aksara bilang-bilang ini dijadikan semacam media komunikasi rahasia antara dirinya dengan para pengikutnya, terutama dalam masa persengketaan dengan Belanda dan seteru politiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir hidup Colliq Pujie juga tak sementereng Kartini. Ia wafat dalam keadaan nyaris terasing di Lamuru tahun 1876. Sebelum mangkat, ia menjadi tahanan politik Belanda selama 10 tahun di Makassar. Meski selama menjadi tahanan itu dimanfaatkannya untuk menulis karya-karya sastra Bugis, dengan membantu BF Matthes, seorang penerjemah berkebangsaan Belanda yang kelak memperkenalkan La Galigo ke seantero dunia di tahun 1852. Colliq Pujie mangkat dengan warisan karya sastra yang mendunia, namun namanya senyap di lintas sejarah Indonesia. Beberapa budayawan Sulawesi Selatan pernah mengajukan namanya menjadi pahlawan nasional pada tahun 2004 namun tertolak karena dianggap pernah menjalin kerja sama dengan pihak Belanda (BF Matthes), sebuah penilaian yang prematur dan tidak proporsional adanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Emansipasi, Jawa-Sentris dan Penyeragaman</b></p>
<p style="text-align: justify;">Suku Bugis Makassar dan suku lainnya di nusantara sesungguhnya tak mengenal perjuangan emansipasi atau hak kesetaraan perempuan, karena sejak awal kaum perempuannya dapat berkiprah selaiknya kaum lelaki tanpa ada pembedaan. Bahkan di beberapa kronik, perempuan Bugis, Aceh, Sumatera pernah didapuk memimpin kerajaan-kerajaan besar, dan mengatasi dominasi kaum lelaki zamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia memang sedari dulu menggemari penyeragaman, termasuk seragam dalam berbusana, sedemikian juga seragam dalam berpikir. Tidak ada yang salah dalam keseragaman, kecuali bahwa potensi untuk berbeda atau setidaknya berimprovisasi menjadi minimal. Orang menjadi malas berpikir untuk melihat dari sisi yang lain, karena sudah terkondisikan dalam situasi yang sedari dulu demikian. Keseragaman kadang identik dengan kedisiplinan, keteraturan dan kepatuhan. Ketidak-seragaman identik dengan pemberontakan, dan perlawanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah saatnya pemerintah  Indonesia mengakomodir pucuk-pucuk budaya lokal, termasuk melakukan koreksi atas klaim-klaim yang berbau jawa sentris seperti pengkultusan sosok Kartini ini. Masih banyak sosok lain yang lebih tangguh dan mewakili keluhuran budaya dan perjuangan bangsa. Terkait sosok Colliq Pujie, bahkan peneliti Inggris Dr Ian Caldwell memberikan pengakuan “terlalu kecil sekira tokoh besar seperti Colliq Pujie dikurung dalam tempurung Indonesia. Ia adalah milik dunia, yang perannya tak bisa dilepaskan dari karya La Galigo, kanon sastra dunia yang menjadi inspirasi dalam merekonstruksi sejarah dan kebudayaan Indonesia”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/lebih-tangguh-dari-kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rempah: Aroma dan Petaka Mencari Indonesia</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/rempah-aroma-dan-petaka-mencari-indonesia/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/rempah-aroma-dan-petaka-mencari-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Apr 2013 15:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[8MingguNgeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1276</guid>
		<description><![CDATA[Setiap menyantap nasi briyani atau nasi mandi yang disajikan restoran Arab dan India di Abudhabi, selalu lidah saya mengecap sesuatu yang rasanya pernah menjadi milik Indonesia; rempah, terutama cengkeh dan lada. Musabab rempahlah, Indonesia menjadi negeri paling menarik bagi bangsa Arab dan Eropa; Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris. Mereka rela bercapai-capai mengelilingi dunia hanya untuk menjejakkan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Setiap menyantap nasi briyani atau nasi mandi yang disajikan restoran Arab dan India di Abudhabi, selalu lidah saya mengecap sesuatu yang rasanya pernah menjadi milik Indonesia; rempah, terutama cengkeh dan lada. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Musabab rempahlah, Indonesia menjadi negeri paling menarik bagi bangsa Arab dan Eropa; Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris. Mereka rela bercapai-capai mengelilingi dunia hanya untuk menjejakkan kakinya di negeri yang pernah dianggap mitos surga rempah. Inilah yang kemudian menjadi muasal bergeraknya roda nasib dari bangsa yang berdaulat dan berkebudayaan tinggi kemudian terpuruk menjadi kaum paria yang terjajah ratusan tahun; rempah!</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini diikutkan pada <a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-minggu-kedua/">8 Minggu Ngeblog</a> bersama Anging Mammiri, minggu kedua.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Malabar_MapExplorationRoutes-980x6274.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1349" alt="Malabar_MapExplorationRoutes" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/Malabar_MapExplorationRoutes-980x6274.jpg" width="604" height="387" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Seribu tahun silam, orang Eropa muak dengan sajian menu hariannya. Daging yang amis dan sayuran hambar setiap hari menghiasi meja makan mereka. Hanya karena tuntutan untuk terus bertahan hidup mereka menjejalkan makanan-makanan itu, dengan sedikit tambahan garam sebagai penawar rasa hambar, ke dalam perut mereka. Sejak lama selera makan mereka sudah runtuh bersama abad kegelapan yang pekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga kemudian sekelompok pedagang yang kembali dari Levante, negeri-negeri di bibir laut Mediterania, memperkenalkan serbuk beraroma tajam yang kemudian dikenal dengan nama <em>el picante</em> dalam bahasa Iberia. Di dunia kuliner, kita menyebutnya rempah (<em>spice</em>) yang menjadi penyedap sekaligus pengundang selera makan. Orang Eropa yang hidup di negeri empat musim itu kegirangan, mereka seakan menemukan babak baru dalam kehidupan mereka. <em>Adios</em> masakan hambar! Begitu kira-kira pekik mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun rempah rupanya tak lantas mudah didapatkan. Juga tak murah. Serbuk eksotis ini diperdagangkan secara monopoli oleh orang Venesia dan hanya di tempat tertentu sesuka mereka; di pasar-pasar Venesia, Belgia dan London. Kalaupun menemukannya di lapak dagang, orang Eropa memerlukan merogoh pundi emasnya dalam-dalam. Secuil lada, pala, cengkeh, atau kayumanis, dihargai teramat mahal. Harganya nyaris lebih tinggi dari emas dan bisa dipertukarkan laiknya uang. Di Prancis, dua ons lada bisa membeli seorang budak dewasa, sedang di Inggris jumlah yang sama bisa membayar sewa rumah setahun. Di Genoa, para prajurit bahkan diberi upah sebesar satu kilogram lada untuk setiap perang yang dimenangkannya. Rempah menjadi barang prestisius dan simbol status sosial. Orang pun mahfum menjadikan rempah sebagai tabungan. Di Prusia (Jerman), penduduk menggunakan satuan pepper-sack, kantong rempah, sebagai ukuran kekayaan.<span id="more-1276"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Selama sekitar lima abad, para pedagang Venesia berhasil meredam gelapnya sumber rempah. Menjalin kongsi dengan para pedagang Arab, mereka memonopoli harga rempah dan menutup akses pedagang bangsa lain ke muasal serbuk sedap itu. Harga yang dibanderol bisa melangit 1000 kali dari harga aslinya, dengan hitungan jarak dan upaya memeroleh sang el picanto. Bayangkan, saat itu cengkeh dan pala hanya tumbuh di enam pulau rempah yang jaraknya hampir setengah keliling bola bumi dari Eropa. Itupun tak banyak yang bisa menjangkau pulau-pulau mini yang terserak di antara belasan ribu pulau di timur samudera Hindia; Ternate, Tidore, Moti, Makian, Bacan dan Bandaneira. Khusus lada hitam (<em>black pepper</em>) muasalnya sendiri masih lumayan dekat, diperoleh di pantai Malabar, ujung barat daya anak benua India yang menghadap langsung ke laut Arab. Kayumanis, saat itu hanya dibudidayakan di Ceylon, negeri yang kini dinamakan Srilanka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga abad 15M, pasar Kalikut di Malabar juga turut memperdagangkan cengkeh, pala dan kayumanis, yang dibawa oleh pedagang Melayu, Tamil dan Cina. Rempah2 itu terkadang merupakan dagangan limpahan dari pelabuhan dagang tetangganya, Malaka. Malaka yang dikuasai kerajaan Samudera Pasai, bahkan dianggap sebagai pemasok rempah utama dunia saat itu. Selain ke Malabar, rempah dari Malaka juga dilayarkan ke Siam dan Cina. Sejak dulu abad 13 Malaka memang menjadi pelabuhan penting di kawasan asia tenggara, tempat para pedagang Melayu, Bugis, Makassar, Jawa dan mungkin Maluku sendiri, tempat asal rempah itu, saling berbarter. Saat itu, pedagang Bugis terkenal dengan komoditas teripangnya, juga rempah dan budak.</p>
<p>++</p>
<p style="text-align: justify;">Harga yang membubung, aroma yang menusuk tajam membuat bangsa Eropa keblinger. Alih-alih menimbun harta demi membeli sekantung serbuk ajaib itu, mereka berpikir jauh untuk menguasai negeri muasal rempah-rempah. Mungkin karena aroma perang dan penguasaan wilayah yang sudah mereka lakoni sejak jaman pertengahan, sehingga kerajaan-kerajaan Eropa itu masih diselimuti kesumat perang. Dengan perasaan arogan sebagai bangsa yang paling beradab dan soleh di seantero jagad, mereka merencanakan ekspedisi armada laut untuk menguasai kepulauan misterius penghasil rempah.</p>
<p style="text-align: justify;">Columbus, adalah penghayal pertama yang dikirim kerajaan Spanyol. Dengan kapal Nina, Pinta dan Santa Maria, dia menyeberang ke barat menembus lautan Atlantik untuk mencari India dan Indonesia, negeri yang pada masa itu dianggap surganya rempah. Pada bulan September 1492, dengan pengetahuan biologi yang pas-pasan, Columbus tiba di “India” khayalannya yang ternyata adalah kepulauan Karibia dan mengklaim menemukan lada dan kayumanis. Belakangan ketahuan bahwa ia hanya menemukan cabe dan kulit kayu pohon karibia yang rasanya tak karuan dan sama sekali tak manis. Columbus berdalih bahwa rasa lada dan kayumanis temuannya memudar karena cara memanen yang kurang cermat, ditambah perjalanan laut yang panjang dan terpaan rasa asin yang membekap “rempah” kebanggaannya itu. Namun Colombus tidak gagal sepenuhnya, perjalanannya itu menemukan dunia baru yang kelak menjadi salah satu benua paling penting di jagad raya; Amerika!</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia baru itu rupanya tak hanya mengandung cabe dan kayu serupa kayumanis, tapi juga emas dan perak yang melimpah ruah. Babak gemilang dimulai oleh bangsa Spanyol di Dunia Baru. Tapi sebaliknya itulah awal petaka berkepanjangan yang mendera bangsa Indian, penduduk asli benua Amerika tersebut, hingga ratusan tahun kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Lima tahun selepas perjalanan Columbus, seorang pelaut Portugis juga melakukan perjalanan yang sama pada bulan Juli 1497. Vasco da Gama, nahkoda cakap utusan raja Manuel, penguasa negeri Portugis itu mengambil jalan yang berbeda dengan Columbus. Da Gama mengambil jalan ke selatan, mengitari Afrika. Dari Kenya, dengan bantuan seorang penunjuk jalan berkebangsaan Arab, ekspedisi Vasco da Gama berlayar ke timur melintasi laut Arab dan menemukan pantai Malabar pada bulan Mei 1498, setelah hampir setahun berlayar dari negerinya. Seperti halnya Spanyol, rupanya Portugis berhasrat menguasai Malabar hingga ke Maluku, negeri yang penduduknya dianggap tak beradab dan kafir. Hanya dalam hitungan tak lebih dari 15-tahun, imperium Portugis sudah melebar nyaris 100kali luas negerinya di Iberia. Portugis menguasai Malabar tahun 1500, mencaplok Malaka tahun 1511 dan akhirnya menjejak di Ternate tahun 1512.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/rempah-aroma-dan-petaka-mencari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dekat Rumah dan Bermewah Dalam Bahasa</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/dekat-rumah-dan-bermewah-dalam-bahasa/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/dekat-rumah-dan-bermewah-dalam-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Apr 2013 21:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[8 Minggu Ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1269</guid>
		<description><![CDATA[Hidup berpindah merupakan kemewahan. Terutama dalam mencerap bahasa dan ragam budaya berbeda di &#8220;dekat rumah&#8221;. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama. Saya lahir di Wajo dan besar di Makassar. Terlahir dari keluarga berlatar suku bugis maka saya dibesarkan dengan bahasa bugis sebagai bahasa lidah ibu sehari-hari (mother tongue). Kedua orang tua saya dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1270" class="wp-caption alignleft" style="width: 614px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/di-oman.jpg"><img class="size-full wp-image-1270" alt="Di ujung tebing, Jabel al-Shams, Oman 2011" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/04/di-oman.jpg" width="604" height="453" /></a><p class="wp-caption-text">Di ujung tebing, Jabel al-Shams, Oman 2011</p></div>
<p style="text-align: justify;"><em>Hidup berpindah merupakan kemewahan. Terutama dalam mencerap bahasa dan ragam budaya berbeda di &#8220;dekat rumah&#8221;. Tulisan ini diikutkan pada <a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-bersama-anging-mammiri/">8 Minggu Ngeblog</a> bersama Anging Mammiri, minggu pertama.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya lahir di Wajo dan besar di Makassar. Terlahir dari keluarga berlatar suku bugis maka saya dibesarkan dengan bahasa bugis sebagai bahasa lidah ibu sehari-hari (<em>mother tongue</em>). Kedua orang tua saya dan kakak-kakak berkomunikasi dalam bahasa bugis. Seperti dirancang sebagai pembeda tempat lahir, adik-adik saya yang lahir di Makassar diperkenalkan dengan komunikasi bahasa indonesia dialek makassar.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil, penghuni rumah menggunakan dua bahasa pengantar; bugis dan indonesia dialek makassar. Meski agak aneh, tapi komunikasi dalam dua bahasa itu bisa <em>nyambung</em> saja. Kedua orang tua saya masih mempertahankan moda komunikasinya dalam bahasa bugis, sedang adik-adik saya menimpalinya dengan bahasa Indonesia. Mereka bercakap dalam bahasa berbeda, tapi saling memaklumi maksud masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak tahun 1980, keluarga saya menetap di Pannampu. Tetangga dekat rumah saya umumnya juga bersuku bugis; bone, wajo, soppeng, sidrap, maros dan sekitarnya. Namun lingkungan Pannampu secara umum dihuni oleh penduduk berbahasa Makassar, terutama bagi para pedagang pasar Pannampu yang lokasinya berdempetan dengan rumah kami (Baca juga: <a href="http://www.daengrusle.net/menunggu-mereka-bermain-api-di-pasar-pannampu/" target="_blank">Menunggu Mereka Bermain Api di Pasar Pannampu</a>). Juga, kawan-kawan di sekolah umumnya bersuku Makassar.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah saya dalam sepergaulan menggunakan bahasa yang bercampur baur; bugis, makassar dan Indonesia. Dalam masa kecil saya itu, tanpa saya sadari, saya bermewah-mewah dengan alam linguistik yang beragam. Tiga bahasa berbeda bisa berkelindan dan tak menimbulkan kecanggungan dalam berkomunikasi.<span id="more-1269"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan, ketika memasuki masa kuliah dan berpindah ke pulau Jawa (Yogyakarta dan Bandung) saya mengenal dua bahasa tambahan; Jawa dan Sunda. Meski tak begitu menguasai linguistiknya, namun setidaknya saya bisa mencerap 40-50% kosa kata dari dua bahasa itu. Terutama karena kawan-kawan kuliah kerap menggunakan bahasa tersebut di kampus. Bahkan, ketika di Yogyakarta, dosen acap memberikan kuliah dalam bahasa jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mulai bekerja tahun 2001, saya makin kerap lagi berpindah tempat; Balikpapan, Sorowako, Bogor, Jakarta dan kini jauh di negeri rantau, Abu Dhabi. Semakin kerap berpindah rumah, semakin kaya ragam bahasa yang saya geluti. Bahasa asing seumpama bahasa Inggeris dan Arab kemudian menjadi bahasa “dekat rumah” saya kini.</p>
<p>===</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah dan sekitarnya membentuk pandangan dunia saya. Budayanya, tatacara berkomunikasinya, dan persepsi-persepsi ditumbuhkan, termasuk mitos dan cerita-cerita lokal yang diturun temurunkan secara lisan. Meski tak diajarkan secara akademis di lingkungan sekolahan, &#8211; hal ini tentu sangat merugikan generasi kita, tapi lingkungan dekat rumah merekatkan banyak hal tentang lintas budaya ini, melalui bahasa yang dijejalkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari bahasa, kita bisa memahami perilaku. Terutama bagaimana ambang etika disepakati bersama. Setiap bahasa di nusantara umumnya memiliki jenjang pemakaian, dari yang paling halus hingga yang kasar. Ketika anda menggunakan kosa kata dengan cara penyampaian yang halus, maka itu dimaksudkan untuk disampaikan kepada pihak yang lebih dihormati. Ketika bercengkerama dengan kawan sebaya, tentu bahasa dengan jenjang penyampaian yang datar atau agak kasar serasa pantas saja diberlakukan. Namun ketika berbicara kepada orang yang tak kita kenal, kita diajarkan untuk berbahasa dengan kosa kata yang halus atau sekadar datar saja demi menjaga kesopanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga mengalami semacam konflik “cerita” dari sejumlah kisah yang berlintasan mengenai benturan dua suku ini. Saya jadi memahami bagaimana dendam sejarah diturunkan dari cerita-cerita ini. Bagaimana sosok Arung Palakka menjadi kebanggaan kawan saya yang orang Bone, tapi dicemooh oleh baik oleh kawan yang Makassar yang punya pahlawan Hasanuddin maupun Wajo yang punya sosok La Maddukelleng. Saya juga diasupi cerita tentang bagaimana persepsi orang Wajo terhadap orang Soppeng dan Bone, demikian pula sebaliknya. Juga tentang sosok <em>urban legend</em> semacam Tomanurung, I Tolo, hingga fantasi tentang Poppo, Parakang, atau Setan Sumiati yang diobrolkan anak-anak menjelang tengah malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik cerita ini makin meluas ketika saya yang orang bugis dan besar di Makassar, hidup di lintas budaya seberang, berbaur dan mencerap bahasa yang strukturnya jauh berbeda semisal jawa, sunda, inggris atau arab. Bahkan, ketika tak lagi menemukan persinggungan budaya antara salah satunya, saya tak lantas merasa terasing. Asing dan keterasingan hanya dirasakan oleh yang gagal mendalami keterikatan budaya yang sejatinya bisa ditarik dari sisi universal kemanusiaan, tentang kreasi luhur pikiran manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya yang hanya mengalami tidak lebih dari enam bahasa mungkin tidak seberapa dibanding <a href="http://www.avgustin.net/" target="_blank">Agustinus Wibowo</a>, penulis buku Selimut Debu, Garis Batas) yang menjelajah hingga Kazakhstan, Tajikistan, Uzbekistan dan negeri-negeri pecahan Soviet. Apalagi dengan pengelana masa silam semacam Ibn Batutah (1304-1369), pengelana asal Maroko yang dalam hidupnya pernah melintasi 44 negara dengan jangkauan lebih dari 100,000km jauhnya, jauh lebih panjang dari Marcopolo yang hidup seabad sebelumnya. Tentu, benturan budaya dan bahasa yang dialami oleh para pengelana itu jauh lebih rumit daripada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahasa memang membendung banyak cerita. Kosa kata menghimpun beragam pesan. Perbedaan cara mengucapkan menyiratkan sebuah pergumulan sejarah yang terpendam di ingatan-ingatan masa lalu pemakainya. Melalui bahasa inilah, para penutur menyimpan dan merawat sejarahnya, dan kemudian diwariskan hingga pada akhirnya bahasa ini terkelupas kehabisan penuturnya, kemudian punah dan hanya terekam dalam pengetahuan sejarah budaya.</p>
<p style="text-align: justify;">==</p>
<p>Postingan ini disertakan dalam <a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-minggu-1/" target="_blank">#8MingguNgeblog Anging Mammir</a>i”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/dekat-rumah-dan-bermewah-dalam-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menang Siri&#8217; Menang Pesse</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/menang-siri-menang-pesse/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/menang-siri-menang-pesse/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2013 18:51:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[pilgub]]></category>
		<category><![CDATA[sulsel]]></category>
		<category><![CDATA[wajo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1261</guid>
		<description><![CDATA[Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang menang di dua hal, menang siri’ dan menang pesse. Di satu sisi ia selalu menjaga kehormatannya dengan menjalankan amanat yang diemban dengan bersungguh-sungguh di jalur yang benar, dan di sisi lain ia juga memuliakan sesama dengan membangun empati sejati, tak peduli kawan atau lawan, elit atau jelata. Kehormatan Bersendikan Empati Wajo, negeri [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1265" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/01/132.jpg"><img class="size-full wp-image-1265" title="132" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/01/132.jpg" alt="" width="298" height="448" /></a><p class="wp-caption-text">Khaerina Dian Milenia, ponakan cantikku</p></div>
<p style="text-align: justify;"><em>Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang menang di dua hal, menang siri’ dan menang pesse. Di satu sisi ia selalu menjaga kehormatannya dengan menjalankan amanat yang diemban dengan bersungguh-sungguh di jalur yang benar, dan di sisi lain ia juga memuliakan sesama dengan membangun empati sejati, tak peduli kawan atau lawan, elit atau jelata.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong style="line-height: 24px;">Kehormatan Bersendikan Empati</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong style="line-height: 24px;"></strong><span style="text-align: justify;">Wajo, negeri yang konon merupakan republik paling awal di nusantara ini sesungguhnya punya tradisi panjang melahirkan pemimpin yang berkarakter humanis. Tak hanya piawai menegakkan kehormatan (</span><em>siri</em>’<span style="text-align: justify;">), tapi mereka juga setia merawat empati kemanusiaan (</span><em>pesse</em><span style="text-align: justify;">).</span></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu yang cukup dikenal dalam kronik kepahlawanan lokal daerah ini adalah sosok La Maddukelleng. Dikabarkan bahwa ia pernah mengurungkan niat menyusuri sungai Walanae dengan bala tentara perangnya di bulan April 1736 hanya karena menghargai Batari Toja Daeng Talaga, penguasa perempuan yang memerintah Bone. Menurut kearifan lokal Bugis yang diyakininya, tak elok seorang komandan perang memasuki daerah kekuasaan seorang perempuan, meskipun ia adalah seteru perangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">La Maddukelleng, yang saat itu masih berstatus “buronan Bone” dan bermaksud pulang ke kampung halamannya di Penekki memilih untuk memutar menghindari tanah kekuasaan maharatu Batari Toja, penguasa tiga kerajaan besar bugis kala itu: Bone, Soppeng dan Luwu. Akhir kisah perang di pertengahan abad 18M itu menyebutkan bahwa Wajo- sekutu setia Gowa dalam perang Makassar, kembali merengkuh kemerdekaannya dari telapak kaki kolonial VOC, pun tak lagi menjadi bawahan Bone. La Maddukelleng sendiri kelak ditahbiskan sebagai Arung Matoa Wajo ke-21 dan bergelar terhormat: ”<em>Petta Pamaraddekai Tana Wajo</em>” – yang memerdekakan tanah Wajo.<span id="more-1261"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari sejumput kronik La Maddukelleng di atas cukup memberi pelajaran penting untuk kita yang hidup di masa modern. Bahwa kemenangan dan tegaknya harga diri tak akan ada nilainya jika tak dibarengi dengan pemuliaan terhadap perilaku ke sesama, baik kepada kawan maupun lawan, elit maupun jelata. Meski dalam suasana perseteruan, La Maddukelleng memilih menegakkan <em>pesse</em> tanpa perlu mendudukkan <em>siri’</em>. Ia mengedepankan pemuliaan terhadap harkat sang ratu Bone, dengan tak memaksakan armadanya menginjak-injak tanah seterunya itu.</p>
<p><strong>Membaca Ulang <em>Siri na Pesse’</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Narasi <em>Siri’ na Pesse</em> bukanlah narasi unilateral yang hanya berlaku satu arah, tetapi ia adalah wacana dialektika yang meniscayakan pemberlakuan secara umum. Kehormatan yang menjadi tafsir umum <em>Siri’</em> tak hanya sekadar menjadi busana pribadi, tapi juga mensyaratkan pengenaan ke orang lain. <em>Siri’</em> adalah busana yang melindungi kehormatan diri, namun juga pada saat yang sama mesti menjaga kehormatan anggota masyarakat lainnya. Penegakan kehormatan ini mensyaratkan penghargaan kepada sesama yang juga berkelindan sebagai tatalaku <em>pesse, </em>rasa empati akan nasib sepenghidupan masyarakat sekitarnya. <em>Siri’ na Pesse</em>, tata bangunan ruhani masyarakat Sulawesi Selatan sejatinya berakar pada kesetaraan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hukum bersendi adat sebagaimana adagium populer di tanah republik ini “<em>maradeka to Wajo’e, ade’na napopuang</em>” berangkat dari tata nilai <em>Siri’ na Pesse</em> ini. Hukum adat berlandaskan kesetaraan ini tak lain merupakan kesadaran kemanusiaan yang luhur sebagaimana yang dipersepsikan dalam bentuk hukum positif yang mengikat semua anggota masyarakat. Di mata hukum, tak dikenal pembedaan karena pangkat, jabatan atau kebangsawanan. Meski tak mengenal mitos tomanurung sebagai peletak dasar pranata sosial, namun adat Wajo yang menjunjung tinggi adat itu juga mengandung ajaran universal yang hanya bisa dihasilkan oleh sosok yang punya keterikatan bipolar, baik Botting Langi’ (dunia atas) maupun Bori’ Liu (dunia bawah).</p>
<p style="text-align: justify;">La Pagala Nenek Mallomo, hakim bijak di Sidenreng abad 16M, pernah berujar pendek namun tegas <em>“Adek’e temmakkianak temmakieppo”</em> – hukum adat tak mengenal anak ataupun cucu. Karena hukum adat adalah imbal dari sebuah kesepakatan yang berlandaskan kesetaraan, maka Nenek Mallomo menjatuhkan hukuman tegas kepada anak kandungnya sendiri ketika terbukti mengambil alat bajak tetangganya tanpa permisi. Alih-alih mendahulukan keluarganya di atas hukum adat, bahkan Nenek Mallomo menegasikan hubungan kekerabatan dalam tegaknya hukum adat. Hal yang sungguh sudah jarang kita saksikan saat ini, terlebih ketika makin maraknya dinasti politik mewarnai jajaran elit pemerintahan kita kini. Dalam singgungan ini, rasa <em>Siri’ </em>karena malu oleh maruk kekuasaan dalam lingkar kekerabatan yang mengabaikan <em>pesse</em> yang mendahulukan kemampuan sepertinya sirna begitu saja.</p>
<p><strong>Pemimpin Menang <em>Siri’</em> Menang <em>Pesse</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan untuk periode 2013-2018 telah memasuki masa-masa akhir. Dari hasil hitung cepat yang dilansir oleh beberapa media lokal dan nasional, kita disuguhi perkiraan pemenang pemilihan ini. Meski memang berlandaskan data statistik yang cukup akurat, namun hasil resmi baru bisa ditentukan oleh perhitungan manual yang akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Selanjutnya, proses tidak akan serta merta berhenti pada ketok palu komisi ini. Masih ada proses legalisasi sekiranya ada pihak yang memperkarakan hasil pemilihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum selesai pula proses ini, muncul kabar mengejutkan dari tanah Wajo. Meski masih membutuhkan penyelesaian kasus hukum yang akan segera bergulir, namun peristiwa kekerasan yang konon melibatkan pemimpin daerah tersebut terkait dengan pemilihan gubernur ini cukup disayangkan. Sekira kabar itu benar dan terbukti di pengadilan, maka peristiwa ini menunjukkan betapa masyarakat elit kita masih lebih didominasi oleh perasaan <em>siri’</em> tapi melupakan <em>pesse</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemenangan memang untuk menegakkan <em>siri’</em>, namun kehormatan yang dimenangkan mensyaratkan juga hadirnya <em>pesse</em> yang memuliakan kemanusiaan sesama. Menang boleh, tapi empati juga mesti hadir. Meskipun terhadap lawan politik, tak perlu repot-repot memeloroti kehormatan mereka. Masyarakat yang ruhaninya dibangun atas <em>siri’ na pesse</em> juga wajib menghormati hukum. Sekira ada yang terganggu, maka hukum-lah yang menjadi tempat mengadu. Meski punya jabatan tinggi, tak serta merta membuat diri boleh berbuat di atas hukum positif. Justru seorang pemimpin yang dihormati adalah yang bijak dalam meletakkan perilakunya sesuai hukum.</p>
<p style="text-align: justify;">Shelly Errington, antropolog Amerika yang melakukan riset tentang <em>Siri’ na Pesse</em> di tanah Luwu tahun 1977 menyimpulkan bahwa “<em>melakukan kekerasan terhadap orang lain hanya karena alasan politik atau ekonomi dianggap hina dalam masyarakat Bugis. Siri’ bukanlah kekasaran, melainkan juga perlu ditunjukkan dengan perasaan halus dan berbudi ke sesama (pesse)”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang menang di dua hal, menang <em>siri’</em> dan menang <em>pesse</em>. Di satu sisi ia selalu menjaga kehormatannya dengan menjalankan amanat yang diemban dengan bersungguh-sungguh di jalur yang benar, dan di sisi lain ia juga memuliakan sesama dengan membangun empati sejati, tak peduli kawan atau lawan, elit atau jelata. Pemimpin ini, seperti La Maddukelleng, kelak akan dikenang sebagai manusia yang <em>mate ri gollai, mate ri santangi</em>, pemimpin yang hidup dan matinya berguna. Apalagi usia jabatan sangatlah singkat, kelak usia tua dan kematian menguntit di belakang. Kalau ketika menjabat tak berguna untuk sesama, bagaimana mungkin dikenang sebagai gula santan masyarakat?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/menang-siri-menang-pesse/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Pertama tentang Nusantara Yang Terbit di Eropa: Sejarah Makassar</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/buku-pertama-tentang-nusantara-yang-terbit-di-eropa-sejarah-makassar/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/buku-pertama-tentang-nusantara-yang-terbit-di-eropa-sejarah-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2013 15:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1257</guid>
		<description><![CDATA[Postingan ini merupakan terjemahan dari artikel Christian Pelras di Jurnal Archipel  Volume 54, Tahun 1997 berjudul &#8220;The First Description of South Sulawesi in French and Remarkable for Two Young Princes Makassar in France of Louis XIV&#8221; ===== Sebuah buku tipis bertajuk “Description Historique du Royaume de Macassar” atau Rincian Sejarah Kerajaan Makassar terbit di Paris, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Postingan ini merupakan terjemahan dari artikel Christian Pelras di Jurnal Archipel  Volume 54, Tahun 1997 berjudul &#8220;The First Description of South Sulawesi in French and Remarkable for Two Young Princes Makassar in France of Louis XIV&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">=====</p>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/01/buku-nusantara-di-eropa.jpg"><img class="size-full wp-image-1332 alignleft" alt="buku nusantara di eropa" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/01/buku-nusantara-di-eropa.jpg" width="200" height="200" /></a>Sebuah buku tipis bertajuk “Description Historique du Royaume de Macassar” atau Rincian Sejarah Kerajaan Makassar terbit di Paris, Prancis tahun 1688. Penulisnya disebutkan bernama </em><em>Gervaise</em><em> Nicolas </em><em>dengan penerbit Grand Saint Grégoir milik pustakawan Hillaire Foucault. Tampaknya buku ini cukup laris karena edisi keduanya kemudian diterbitkan oleh Erasmus Klinkius di Regensburg tahun 1700, dengan beberapa penambahan data. Setahun kemudian, edisi terjemahan berbahasa Inggris nya terbit di London, tahun 1701.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Rupanya penulis yang menyukai sejarah ini </em><em>juga menerbitkan buku </em><em>berbeda pada tahun yang sama</em><em>,</em><em> kali ini dia mengulas tentang Kerajaan Siam</em><em> </em><em>“</em><em>Histoire Naturelle</em><em> </em><em>et Politique du Royaume de Siam</em><em>” atau</em><em> Sejarah dan </em><em>Politik </em><em>Kerajaan Siam. </em><em>Pada masa itu, Siam memang banyak berhubungan dengan Perancis. Keduanya bahkan sudah menjajaki pertukaran duta besar yang pada tahun 1685 kantor perwakilan Perancis di Siam dipimpin oleh </em><em>M de Chaumont</em><em> demikian juga dengan intensnya pengiriman misionaris Kristen dari </em><em>Society</em><em> of Foreign Missions of Paris ke Siam. Sebuah kesepakatan juga ditandatangani, bahwa Perancis mendatangkan pasukan untuk melindungi Raja Siam dan ditempatkan </em><em>di</em><em> benteng</em><em>2</em><em> </em><em>di </em><em>Bangkok dan</em><em> Mergui. Saat itu, banyak buku kemudian diterbitkan di Siam. Namun, saat itu nama Makassar </em><em>tak begitu dikenal dan menjadi perhatian </em><em>Perancis</em><em>. Tidak ada </em><em>satupun </em><em>tulisan</em><em> </em><em>yang </em><em>diterbitkan</em><em> dalam bahasa Perancis, </em><em>mengenai </em><em>Makassar</em><em> khususnya, atau pulau Sulawesi </em><em>secara umum </em><em>sebelum abad</em><em> </em><em>19</em><em>. Tiga pertanyaan muncul </em><em>di benak</em><em>: </em><em>Siapa sebenarnya </em><em>Gervaise</em><em>, </em><em>apa latar belakang dari penerbitan </em><em>buk</em><em>unya</em><em>, dan </em><em>dengan cara bagaimana </em><em>ia</em><em> mendapatkan informasi </em><em>mengenai buku </em><em>itu</em><em>? Tapi sebelum Anda menjawab, mari kita </em><em>urai </em><em>secara singkat</em><em> </em><em>megenai </em><em>isi</em><em> buku tersebut.</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Buku itu terbagi menjadi tiga bahagian</em><em>. Buku Pertama, menceritakan tentang situasi negara, buah-buahan, tanaman, hewan, sungai dan kota-kota besar, yang diawali dengan penjelasan singkat mengenai peperangan melawan Toraja oleh seorang Raja Makasar yang oleh penulis disebut &#8220;Craen Biset &#8220;-  yang kemungkinan merujuk ke Sultan Ali yang bergelar Karaeng ri Bisei yang merupakan penguasa Goa tahun 1674-1677 (orang Barat menyebut Goa sebagai Macassar). Penulis </em><em>melanjutkan bahagian pertama itu dengan </em><em>deskripsi</em><em> negara Toraja </em><em>dan hal lainnya menyangkut </em><em>flora</em><em>, fauna, produk </em><em>masyarakatnya</em><em>, dll.<span id="more-1257"></span></em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dia </em><em>menceritakan</em><em>, antara lain </em><em>mengenai buah </em><em>sukun</em><em> yang dia sebut &#8220;bacaran&#8221; (</em><em>M</em><em>ak</em><em>assar</em><em> &#8216;Bakara) sebagai makanan penting bagi </em><em>orang </em><em>Toraja</em><em>, dan </em><em>perdagangan yang dilakukan </em><em>melalui</em><em> Mamuju, </em><em>tepung atau bahan yang digiling</em><em>, </em><em>menanam opium, juga membubuhi racun pada </em><em>anak panah</em><em> sumpitan </em><em>yang didapatkan dari pohon tertentu</em><em>. Dalam buku itu juga diberikan beberpa nama buah dalam bahasa Makassar; onti (pisang), lame (pisang), sikapa’ (ubi kelapa) dan tentang bunga mawar yang disebut bungajê&#8217;nê mawara (bunga air mawar), yang dapat dijadikan parfum dan pengharum kuburan, sehingga disebut juga bunga Jera (bunga orang mati).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Penulis buku itu </em><em>kemudian</em><em> berbicara tentang aktivitas pelabuhan Makassar, yang </em><em>mengingat letaknya yang strategis telah menarik minat </em><em>Belanda</em><em> untuk menguasainya</em><em>. </em><em>Kisah </em><em>perang</em><em> </em><em>yang </em><em>dilancarkan</em><em> </em><em>Belanda tahun </em><em>1650</em><em> </em><em>melawan</em><em> Makassar sampai kekalahan </em><em>mereka </em><em>tahun 1660</em><em> (yang hanya </em><em>berlaku </em><em>sementara</em><em>). Dalam peristiwa ini, penulis memberikan perhatian khusus kepada sosok yang ia sebut sebagai Daeng Mangalle yang diiidentifikasi sebagai adik dari Sultan yang memerintah pada saat penulisan buku tersebut. Sosok ini, yang mengambil bagian aktif dalam perjuangan melawan Belanda, dan sangat menentang perjanjian damai dengan mereka pada tahun 1660, adalah korban dari intrik politik dan dipaksa mengasingkan diri, pertama di Jawa, di mana ia menikah dengan seorang putri Jawa. Karena takut oleh kejaran pasukan Belanda, ia terpaksa melarikan diri ke Siam bersama 200 orang pengikutnya pada tahun 1664 dan rupanya diterima dengan baik oleh Raja Phra Narai, dan diperbolehkan menetap di pinggiran ibukota Ayutthaya, dengan diberikan hadiah berupa tanah dan mesin pertanian.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Namun,</em><em> </em><em>pada tahun 1686, orang2 </em><em>Makassar</em><em> </em><em>ini dianggap terlibat </em><em>pemberontakan bersenjata</em><em> melawan raja dan </em><em>akhirnya </em><em>semua</em><em> </em><em>terbunuh</em><em>, </em><em>kecuali </em><em>dua</em><em> </em><em>pangeran Makassar</em><em>, yang</em><em> menurut </em><em>penulis</em><em>, </em><em>dikirim ke </em><em>Perancis</em><em> dan </em><em>dididik </em><em>di</em><em> Clermont College (Jesuit College, yang kemudian menjadi sekolah dan perguruan tinggi Louisle &#8211; Grand) di Paris.</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Buku Kedua</em><em> </em><em>mengulas tentang </em><em>&#8220;</em><em>Sifat </em><em>dan</em><em> </em><em>kebiasaan orang Makassar</em><em>, </em><em>pemerintahannya</em><em>,</em><em> </em><em>mata pencaharian</em><em>, </em><em>seni-permainan</em><em>, pakaian dan </em><em>adat </em><em>pernikahan</em><em>. </em><em>Bahagian </em><em>ini </em><em>dimulai dengan </em><em>menceritakan bagaimana mendidik anak </em><em>(</em><em>intelektual </em><em>dan </em><em>manual)</em><em>, karakter </em><em>orang </em><em>Makassar</em><em> dan </em><em>sikap mereka terhadap harga diri (siri’) </em><em>yang membuat mereka</em><em> lebih memilih </em><em>mati daripada terhina </em><em>–</em><em> </em><em>bagaimana wanita berperilaku</em><em>, terutama wanita </em><em>bangsawan</em><em>, terhadap laki-laki </em><em>lain selain </em><em>suami mereka</em><em>. </em><em>Juga mengenai </em><em>pelatihan</em><em> </em><em>memainkan </em><em>senjata</em><em> </em><em>bagi </em><em>remaja</em><em> muda, dan permainan </em><em>kesukaan pemuda yakni gasing</em><em>, sabung ayam, dan layang-layang. Penulis juga mencatat bahwa lima puluh tahun sebelumnya, raja berhasil menerbangkan layang-layang besar dengan lebar sayap 30 kaki, dilengkapi dengan bunyi-bunyian dan ekor yang panjangnya 30 kaki. Pesta layangan ini ditampilkan dalam sebuah ritual yang menandai berakhirnya masa panen, mengambil tempat di sebuah lapangan besar bernama Karebosi</em><em>.</em><em> Kemudian penulis juga menceritakan tentang makanan kesukaan sehari-hari – yang selalu dihadirkan sebagai santapan &#8211; di Makassar yakni minuman pedas yang disebut &#8220;sorbec&#8221;, dari bahasa Arab yang menjadi &#8216;sara&#8217;ba dalam bahasa lokal.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Gervaise</em><em> kemudian menuliskan tentang kepemilikan budak oleh para bangsawan yang<br />
juga menujukkan martabatnya, di mana diungkapkan sebagai niya ata (&#8220;dia budak&#8221;) untuk menyatakan posisi sosial-ekonomi seseorang. Juga ditegaskan bagaimana aturan berperilaku ketika berkunjung ke rumah seseorang yang derajatnya lebih mulia, dengan mengucapkan kesan penghormatan saat masuk sesuai dengan derajatnya, “Maiki Daeng” atau “Maiki Kare”, dengan cara yang sama ketika meninggalkan rumah tersebut dengan berkata &#8216;Lampama’ Daeng, yang dijawab dengan Lamapamaki&#8217; Daeng. Gervaise juga mencatat di buku ini tiga gelar kebangsawanan, yang Daeng, Kare dan Lolo, tetapi ia juga mencatat gelar yang lain yang peringkatnya lebih tinggi, sebagai &#8220;Craen&#8221; (Karaeng). Untuk penguasa, maka penyebutannya akan menjadi &#8220;Sombanco&#8221; (Sombangku). Ada ungkapan dari raja Perancis Louis XIV yang menyatakan ketakjubannya tentang hierarki gelar kebangsawanan Makassar bahwa “Tidak ada, orang-orang di dunia di mana bangsawan lebih dijiwai dengan derakat mereka selain orang-orang Makassar” &#8211; meskipun pernyataan ini masih diragukan kebenarannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Penulis kemudian</em><em> beralih menceritakan tentang pemerintahan kerajaan Goa, di mana ia menekankan secara akurat bagaimana peran menonjol dari Perdana Menteri (pada saat itu dijabat oleh Karaeng Karunrung yang terkenal), yang memiliki otoritas penuh atas urusan sipil sementara raja memiliki kekuasaan tertinggi atas hokum dan pernyataan perang. Tentara kerajaan, menurutnya (yang tampaknya bukanlah tentara profesional) berjumlah 10.000 orang di masa biasa, tetapi kemudian jumlah ini meningkat menjadi 100.000, termasuk 12.000 penunggang kuda pada saat berkecamuk perang melawan Belanda. Angka-angka ini mungkin </em><em>kelihatan berlebihan</em><em>, </em><em>namun jumlahnya rupanya </em><em>sebanding dengan</em><em> apa yang </em><em>telah dipaparkan oleh </em><em>sejarawan</em><em> </em><em>Leonard </em><em>Andaya</em><em>. </em><em>Dengan menyimak </em><em>penjelasan</em><em> yang cukup rinci dari </em><em>organisasi dan persenjataan </em><em>militer</em><em>, </em><em>Gervaise juga mencatat mengenai </em><em>hukuman bagi</em><em> </em><em>para </em><em>desertir</em><em>. Gervaise menyatakan bahwa bangsawan tidak dapat dihukum mati, kecuali dalam kasus pengkhianatan di mana hukumannya adalah bahwa pelaku dapat dimasukkan ke dalam kuali berisi air panas (hukuman yang juga berlaku bagi kasus pelanggaran serius dari hokum yang berlaku).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dalam pembahasannya mengenai praktek pelaksanan hokum</em><em>, </em><em>penulis </em><em>mencatat</em><em> peran penting syahbandar, yang </em><em>tak hanya </em><em>berfungsi</em><em> </em><em>sebagai kepala pelabuhan</em><em>, tetapi juga</em><em> </em><em>bertindak selaku kepala kepolisian</em><em>. Jabatan lain yang penting dan resmi, menurut Gervaise, adalah apa yang ia sebut sebagai &#8220;petugas&#8221; (dia tidak memberikan nama jabatan dalam bahasa makassar) yang bertanggung jawab atas pencatatan transaksi dan pernikahan &#8211; mungkin mirip dengan jab</em><em>a</em><em>tan penghulu </em><em>agama </em><em>dalam masyarakat Jawa. Tidak ada, menurut Gervaise, hal yang lebih penting bagi masyarakat Makassar, terutama bagi kaum bangsawan, melainkan pernikahan itu &#8211; yang masih berlaku saat ini – mengenai kebiasaan mempertunangan sejak masa kanak-kanak dan aturan mengenai mahar/panaik. Jalannya </em><em>ritual </em><em>pernikahan</em><em>, saat ia menjelaskan hal itu</em><em> dalam bukunya</em><em>, memiliki beberapa perbedaan dengan </em><em>yang berlaku </em><em>saat ini</em><em>. Bagian</em><em> kedua</em><em> </em><em>buku </em><em>ini</em><em> berakhir dengan aturan untuk pembagian warisan.</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Buku</em><em> ketiga berhubungan dengan &#8220;Agama Lama </em><em>Orang Makassar</em><em>, yang<br />
yang </em><em>saat ini dianut oleh mereka</em><em> </em><em>dan upacara</em><em> </em><em>keagamaan yang ditentukan</em><em>. Gervaise kemudian memberikan ulasan ringkas tentang praktek keagamaan pra-Islam, kenangan yang masih tersisa sejak Islamisasi Makassar sekitar 80 tahun sebelumnya, dan kemungkinan bahwa di beberapa daerah pinggiran atau di lingkungan tertentu atau keluarga, masih belum sepenuhnya di-Islamkan. Berbagai informasi yang diberikan di sini &#8211; fakta bahwa di Makassar upeti atau persembahan tetap dibayar di luar ruangan dan bukan di kuil-kuil, adanya penghormatan terhadap matahari dan bulan, keberadaan patung-patung sakral, tanah liat atau logam, jenazah yang dikuburkan di dalamnya, praktik pengorbanan hewan pada hari pertama dan hari kelima belas dari setiap bulan, kepercayaan pada reinkarnasi atau perpindahan jiwa ke jazad lain – kepercayaan ini tidak dikonfirmasi sebelumnya sampai kemudian sumber atau hasil penelitian baru yang diterbitkan. Demikian pula, mitos tentang asal-usul </em><em>kehidupan orang </em><em>Makassar</em><em> </em><em>dalam penelitian terbaru menunjukann ke</em><em>mirip</em><em>an yang sangat </em><em>dengan</em><em> tradisi bugis esoteris.</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Berkenaan dengan</em><em> Islam, </em><em>Gervaise menulis kesan yang luar biasa mengenai keterbukaan yang tak lazim </em><em>berkaitan dengan waktu</em><em> teks ini ditulis, terutama bila dibandingkan dengan apa yang ia tulis tak lama sebelum buku sebelumnya di Siam , tentang &#8220;Malaies&#8221; (lihat di bawah). </em><em>R</em><em>esistensi</em><em> Islam bertemu dari kelas bangsawan, Gervaise memberikan disini</em><em> </em><em>Sekali lagi</em><em>, informasi yang telah mampu </em><em>kami pahami sebagai hal </em><em>baru</em><em>, dengan membandingkan</em><em>nya </em><em>dengan</em><em> </em><em>sumber Bugis<a title="" href="file:///C:/Users/UAE/Downloads/Pelras%20-%20Dua%20Pangeran%20Makassar%20di%20Prancis-terjemahanIndo%20(1).docx#_ftn3"><strong>[3]</strong></a> bertulisan tangan</em><em>. Demikian pula, deskripsi </em><em>ritual </em><em>sunat</em><em> dan penguburan seperti yang dilakukan </em><em>bagi kalangan bangsawan yang juga ditemukan di catatan budaya lainnya</em><em>.</em><em></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Gervaise</em><em> </em><em>membagi </em><em>tiga </em><em>kategori muslim berkaitan dengan tingkatan pengabdiannya</em><em>: </em><em>yakni </em><em>Labe</em><em> </em><em>(</em><em>yaitu </em><em>Melayu</em><em> </em><em>Lebai</em><em>) </em><em>yang </em><em>bertanggung jawab</em><em> </em><em>untuk </em><em>melaksakan </em><em>ritual</em><em> </em><em>pemakaman</em><em> </em><em>yang juga </em><em>bertanggung jawab </em><em>sebagai pengurus </em><em>masjid</em><em>, Santri yang merupakan pelajar </em><em>sekolah agama</em><em> </em><em>(</em><em>pondok </em><em>pesantren), </em><em>juga </em><em>sebagai semacam</em><em> </em><em>biarawan</em><em> </em><em>atau</em><em> </em><em>biarawati</em><em>, </em><em>hidup sendiri atau janda</em><em>, </em><em>berpakaian </em><em>serba </em><em>putih</em><em>, </em><em>kepala gundul</em><em>, </em><em>tinggal di</em><em> </em><em>dinding</em><em> </em><em>masjid</em><em> </em><em>dan hanya </em><em>bergantung </em><em>pada</em><em> </em><em>sedekah</em><em>, </em><em>m</em><em>ungkin</em><em> </em><em>yang dia maksudkan </em><em>berkaitan</em><em> </em><em>dengan </em><em>-</em><em> </em><em>m</em><em>eskipun</em><em> </em><em>saya tidak tahu</em><em> </em><em>informasi lain</em><em> </em><em>tentang hal ini</em><em> </em><em>–</em><em> </em><em>adalah pendeta </em><em>yang eksis pada saat-saat </em><em>awal</em><em> </em><em>berdirinya</em><em> </em><em>Islam</em><em>, </em><em>seperti </em><em>Zawiyah</em><em> </em><em>atau mereka yang sudah </em><em>eksis</em><em> </em><em>di</em><em> </em><em>negara-negara Muslim</em><em> </em><em>lainnya</em><em>. </em><em>Untuk kategori</em><em> </em><em>ketiga</em><em> </em><em>menurut Gervaise</em><em>, </em><em>adalah Tuan I</em><em>mam</em><em>, </em><em>gelar keagamaan ini diperoleh ketika yang bersangkutan pulang dari </em><em>Mekah</em><em>. </em><em>Sebenarnya</em><em> </em><em>kami mengira bahwa yang dimaksud</em><em> </em><em>tuan adalah pimpinan dari persaudaraan</em><em> </em><em>mistik</em><em>, </em><em>seperti misalnya</em><em> </em><em>Sheikh</em><em> </em><em>Yusuf</em><em> yang </em><em>terkenal</em><em>, </em><em>yang dikenal dengan gelar Tuanta</em><em> </em><em>Salamaka</em><em> (Tuan Yang Tercerahkan) </em><em>–</em><em> </em><em>pelopor tasawuf</em><em> </em><em>dalam Islamisasi</em><em> </em><em>Sulawesi Selatan</em><em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Buku</em><em> </em><em>Gervaise</em><em> </em><em>bisa dianggap sebagai risalah</em><em> </em><em>yang dapat ditelusuri, baik secara geografis, sejarah dan</em><em> </em><em>etnografi</em><em> </em><em>mengenai penduduk Sulawesi Selatan</em><em>, dimana </em><em>Makassar</em><em> sebagai </em><em>pokok ulasan</em><em>, meski juga membahas </em><em>Toraja, termasuk Mandar</em><em> </em><em>dan</em><em> </em><em>Bugis dengan porsi yang sedikit</em><em>. </em><em>Namun demikian, b</em><em>uku ini tak </em><em>merujuk ataupun diimbangi oleh </em><em>buku lainny</em><em>a</em><em> </em><em>yang terbit </em><em>pada saat itu</em><em>, </em><em>termasuk di </em><em>Belanda</em><em>.</em></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///C:/Users/UAE/Downloads/Pelras%20-%20Dua%20Pangeran%20Makassar%20di%20Prancis-terjemahanIndo%20(1).docx#_ftnref2">[2]</a> G. Hamonic, &#8220;For a comparative study of South Celebes cosmogonies. About an unpublished manuscript on the origin of the gods Bugis &#8220;, Archipel, 25, 1983, p. 35-62.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///C:/Users/UAE/Downloads/Pelras%20-%20Dua%20Pangeran%20Makassar%20di%20Prancis-terjemahanIndo%20(1).docx#_ftnref3">[3]</a> Ch. Pelras, « Religion, tradition and the dynamics of Islamization in South-Sulawesi », Archipel, 29, 1985, p. 121. 10. H. T. Damsté,</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/buku-pertama-tentang-nusantara-yang-terbit-di-eropa-sejarah-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Kristen di Tanah Bugis Abad 16</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/jejak-kristen-di-tanah-bugis-abad-16/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/jejak-kristen-di-tanah-bugis-abad-16/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2013 14:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1254</guid>
		<description><![CDATA[Kristen Dulu, Islam Kemudian; Jejak Kristen di Tanah Bugis Abad 16 Masyarakat Bugis dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Saking fanatiknya, bagi sesiapa yang keluar dari agama Islam konon akan mendapat hukuman sosial; disingkirkan dari hubungan kekerabatan dan terusir dari lingkungan. Meski mungkin saat ini tak begitu berlaku lagi, namun integrasi Islam ke dalam pranata sosial [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1255" class="wp-caption alignnone" style="width: 479px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/01/Peta-Sulawesi-buatan-Protugis-tahun-1633-yg-dilingkari-wilayah-Siang-dan-Ajatappareng.jpg"><img class="size-full wp-image-1255" title="Peta Sulawesi buatan Protugis tahun 1633 - yg dilingkari wilayah Siang dan Ajatappareng" alt="" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2013/01/Peta-Sulawesi-buatan-Protugis-tahun-1633-yg-dilingkari-wilayah-Siang-dan-Ajatappareng.jpg" width="469" height="737" /></a><p class="wp-caption-text">Peta Sulawesi buatan Protugis tahun 1633 &#8211; yg dilingkari wilayah Siang dan Ajatappareng (Dari Buku Stephen Druce)</p></div>
<p><strong>Kristen Dulu, Islam Kemudian; </strong>Jejak Kristen di Tanah Bugis Abad 16</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Masyarakat Bugis dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Saking fanatiknya, bagi sesiapa yang keluar dari agama Islam konon akan mendapat hukuman sosial; disingkirkan dari hubungan kekerabatan dan terusir dari lingkungan. Meski mungkin saat ini tak begitu berlaku lagi, namun integrasi Islam ke dalam pranata sosial masyarakat Bugis masih terasa lekat.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Namun sebelum mengalami Islamisasi, mereka pernah mula-mula memeluk agama Kristen Katholik yang didakwahkan oleh pedagang Portugis. Meski diduga berlatarbelakang kepentingan politis, nyatanya raja-raja di kerajaan Siang (kini Bungoro, Pangkep) dan kawasan Ajatappareng pernah dibaptis dalam tradisi Katholik. Proses peralihan kepercayaan </em>patturioloang<em> Bugis ke iman Kristen memang berlangsung singkat dari tahun 1544-1547, namun sebaran agama Kristen mencakup jumlah penduduk yang cukup banyak saat itu, tak kurang dari 340,000 jiwa. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Kerajaan Siang dan Konfederasi Ajatappareng </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika gelora petualangan menghinggapi benak bangsa Eropa untuk mencari sumber emas dan rempah-rempah, seorang Portugis bernama Antonio de Paiva singgah di Kerajaan Siang pada tahun 1544. Setelah melakukan diskusi teologis yang hangat, de Pavia kemudian membaptis Datu Suppa La Putebulu beserta anggota keluarganya, berikut Raja Siang beberapa hari setelahnya. Hubungan dua bangsa berbeda ini juga menghasilkan pengiriman empat pangeran Bugis menyertai Antonio de Paiva untuk dididik di Sekolah Jesuit di India, di samping permintaan raja Siang dan Suppa agar Gubernur Portugis di Malaka mengirim pendeta dan bantuan militer. Kisah ini dicatatkan oleh de Pavia sebagaimana dituliskan oleh Stephen C Druce dalam bukunya <em>The Lands West of The Lakes</em> &#8211; <em>History of Ajatappareng, (Penerbit KITLV-2009)</em>. Yang disebut Ajatappareng adalah konfederasi kerajaan-kerajaan Bugis yang berdiam di tanah subur sebelah barat danau Sidenreng yang terdiri dari Sidenreng, Rappang, Suppa, Bacukiki, Alitta, dan Sawitto.</p>
<p style="text-align: justify;">Portugis rupanya hanya mengindahkan permintaan pertama. Setahun setelah kedatangan de Paiva, sebuah misi khusus kekristenan dipimpin pendeta Vicente Viegas berhasil membaptis penguasa<em> </em>Alitta dan Bacukiki. Kronik lainnya dicatat oleh Manuel Godinho de Eredia, cucu La Putebulu dari ayah seorang Portugis, menyebutkan bahwa turut serta dalam pembaptisan ini adalah raja Sawitto dan Sidenreng. Manuel Godinho de Eredia sendiri, sempat mengenyam pendidikan seminari katholik di Goa dan kemudian menjadi petualang dan ahli geografi terkenal. Lelaki portugis keturunan bugis ini juga dikenal sebagai penulis sejarah dan orang pertama yang mengindikasikan adanya benua Australia di selatan kepulauan Hindia, yang mana mungkin diperoleh dari cerita-cerita leluhurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat kekerabatan antara penguasa kawasan Ajatappareng yang saling berkelindan baik dari hubungan darah maupun politis menguatkan dugaan bahwa seluruh raja-raja di Ajatappareng telah memeluk agama Katholik pada tahun 1545, sementara agama Islam baru diproklamirkan sebagai agama resmi Gowa-Tallo pada tahun 1605. Nalar stratifikasi sosial orang Bugis yang cenderung menganut sistem patron-klien memungkinkan peralihan massal keyakinan masyarakat Siang dan Ajatappareng ke dalam pelukan agama baru ini mengikuti rajanya.<span id="more-1254"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Inilah persentuhan awal yang terjadi antara <em>Saoraja</em> (istana) Bugis dengan kepercayaan luar. Meski Islam sudah dikenal di kawasan ini sejak terbukanya hubungan dagang antara Siang dengan Malaka tahun 1490, namun peralihan resmi dari kepercayaan kuno ke agama formal asing masih belum menemukan momentumnya hingga tahun 1544 tersebut. Apalagi pola patron-klien yang sangat kental mensyaratkan pengakuan politis dari pihak istana agar kepercayaan luar itu diterima secara terbuka oleh masyarakatnya.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Kristenisasi Kepercayaan Patturioloang </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Druce maupun Christian Pelras (Manusia Bugis, 2006) menuliskan bahwa tak mudah menaklukkan hati para bangsawan Bugis yang masih memeluk kepercayaan <em>patturioloang</em> berdasar mitologi Tomanurung yang merekat kuat sebagaimana bisa ditemukan dalam epos La Galigo. Namun, diskusi teologis yang berlangsung antara de Paiva dengan Datu Suppa La Putebulu dan Raja Siang (tak disebutkan namanya) menyiratkan adanya “penyesuaian” antara dua kepercayaan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbandingan peristiwa diangkatnya Kristus ke langit dengan persitiwa yang mirip dialami oleh Batara Guru ketika meninggalkan dunia tengah menuju Botting Langi’ di bagian akhir epos La Galigo menjadi salah satu bentuk penyesuaian itu. Juga peran para orang suci <em>(the cult of saints)</em> termasuk Nabi Hermes sebagai perantara komunikasi manusia dengan Tuhan, menyiratkan peran yang sama yang diemban oleh para dewata dalam kepercayaan <em>patturioloang</em> Bugis yang menghubungkan <em>Dewata Sisine – </em>konsep Tuhan dalam mitologi Galigo, dengan manusia. Demikian juga konsep <em>tomanurung</em> yang menurunkan darah dan kuasa perlindungan simbolik terhadap raja-raja Bugis dipersamakan perannya dengan Nabi Adam atau Santo Yacob. Juga perihidup pendeta Katholik yang hidup selibat dimirip-miripkan dengan pendeta bugis: <em>Bissu, </em>penafsir Lontara dan penjaga pusaka kerajaan (<em>arajangeng)</em> yang juga tak menikah.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyesuaian-penyesuaian ajaran itu memungkinkan para raja Bugis untuk mencerna ajaran Katholik tanpa perlu meninggalkan mitos-mitos <em>patturioloang</em> yang sudah mendarah daging dalam kepercayaan mereka. Selain itu, “kristenisasi” mitologi <em>patturioloang </em>nyatanya<em> </em>tak mengancam posisi politis para bangsawan tersebut sehingga mereka tetap memiliki peran dominan yang disimbolkan sebagai turunan <em>tomanurung</em> sebagaimana kepercayaan yang dipelihara dalam pengetahuan simbolik masyarakat Bugis.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu dicatat bahwa kala itu Datu Suppa dan Raja Siang sebenarnya sudah mengenal keberadaan agama Islam yang dianut oleh masyarakat Melayu yang sudah menetap di Siang sejak ditaklukkannya Malaka oleh Portugis tahun 1511. Sebelum dibaptis secara Katholik, Datu Suppa bahkan sempat mempertanyakan alasan bangsa Portugis memerangi orang Islam di Malaka yang menyiratkan bahwa beliau sudah memiliki informasi yang cukup mengenai dua agama langit ini sebelumnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Motif Politik dan Dukungan Militer</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penerimaan penguasa Suppa dan Siang terhadap ajaran Katholik kemungkinan juga dipengaruhi oleh kepentingan politis selain adanya irisan ajaran keduanya. Pada pertengahan abad 16, Suppa dan Siang sedang dalam masa genting karena memburuknya keamanan di kawasan itu. Keduanya sedang membutuhkan aliansi militer yang kokoh untuk memperkuat dominasinya di pantai barat Sulawesi, sehingga Portugis &#8211; yang menaklukkan Malaka pada beberapa tahun sebelumnya, menjadi pilihan yang strategis untuk dijadikan mitra militer di kawasan ini. Kerajaan Siang dan Suppa beserta konfederasi Ajatappareng lainnya diketahui merupakan kerajaan yang saling bersahabat. Berdasarkan pertimbangan politis inilah, peralihan iman ke Kristen mengundang dukungan Portugis untuk memperkuat kedudukan mereka di kawasan Sulawesi Selatan dan sekitarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut kronik de Paiva, Kerajaan Siang saat itu baru saja usai memadamkan pemberontakan sejumlah kerajaan bawahannya dan mempertahankan hegemoninya di pantai Mandar dan sepanjang Selat Makassar hingga teluk Kaili di utara yang kaya akan kayu cendana dan emas. Sedang kawasan Ajatappareng juga menghadapi ancaman kerajaan Wajo dari arah timur. Belum lagi bertumbuhnya kerajaan Gowa di bagian selatan yang sedang berupaya melakukan ekspansi militer menguasai wilayah pantai selatan semenanjung ini. Kekuatan militer Kerajaan Islam Ternate juga menjadi bahan pertimbangan mengingat mereka sudah menguasai Buton di tenggara pada tahun 1542. Karenanya Stephen Druce menengarai bahwa motif Datu Suppa dan Raja Siang memeluk Kristen bukanlah murni berlatar religiusitas, tapi lebih karena kepentingan politis.</p>
<p><strong><em>Nasib Akhir Kristen Siang dan Ajatappareng</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meski Siang dan kawasan Ajatappareng cukup menjanjikan sebagai lahan penyebaran agama bagi pendeta Portugis, tampaknya Bugis tak menjadi prioritas yang penting bagi mereka. Perang yang berkepanjangan antara kerajaan-kerajaan kecil di kawasan itu memperbesar resiko bagi Portugis dibandingkan Maluku yang lebih kaya komoditas rempah-rempah. Apalagi tak lama berselang, sebuah peristiwa menegangkan membuat hubungan keduanya terganggu, yakni dilarikannya seorang putri Datu Suppa oleh perwira Portugis yang kemudian dinikahi secara resmi di Malaka. Dari pernikahan ini lahir Manuel Godinho de Eredia, penulis dan ahli geografi yang disebutkan sebelumnya. Setelah peristiwa itu, para pendeta Portugis segera angkat kaki dan tak pernah lagi kembali hingga tahun 1584 yang juga tak begitu lama. Meski demikian, Datu Suppa tetap memeluk agama Kristen hingga mangkatnya, menurut penuturan Manuel Godinho de Eredia, peranakan yang lahir dari pasangan perwira Portugis dengan putri Datu Suppa tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaran agama Kristen kemudian terhenti total di kawasan Ajatappareng seiring memudarnya kekuasaan mereka. Juga tak ada kabar mengenai kepulangan para pemuda Bugis yang dititipkan untuk dididik secara Katholik di Sekolah Jesuit di India kala itu. Apalagi Portugis rupanya tidak sungguh-sungguh mengirimkan bantuan militer kepada Suppa dan Siang hingga kemudian ditaklukkan Karaeng Lakiyung Tunipalangga, raja Gowa Tallo yang naik tahta tahun 1546-1565.</p>
<p><strong><em>Islam Kemudian</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selepas masa yang singkat kurang dari tiga tahun itu, tak ada lagi kronik yang menegaskan keberlanjutan agama Kristen di Konfederasi Ajatappareng. Kemungkinan besar bahwa kawasan itu kembali lagi ke kepercayaan awal <em>patturioloang</em> hingga kemudian mengalami Islamisasi melalui ekspansi militer kedua kalinya oleh Sultan Alauddin, raja muslim pertama di kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1608. Islam sendiri menjadi agama resmi kerajaan Gowa-Tallo setelah Karaeng Matoayya mengikrarkan diri sebagai muslim dengan bimbingan Datuk Ri Bandang pada tahun 1605.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerajaan Siang sendiri kemudian memudar atau melebur ke dalam kerajaan Gowa-Tallo pada periode yang sama. Bahkan dalam peta Sulwesi yang dibuat oleh orang Portugis tahun 1633, Kerajaan Siang sudah tak lagi tampak. Setelahnya, orang Bugis termasuk Siang dan Ajatappareng memeluk agama islam secara massif. Hingga kini, jejak Kristen tak ditemukan lagi dalam peradaban mereka kecuali termaktub dalam catatan perjalanan orang-orang Portugis di abad 16M. Jumlah orang Bugis yang menganut agama Kristen hingga kini boleh dibilang sangat sedikit, karena sepertinya Islam sudah merasuk menjadi identitas kultural orang Bugis itu sendiri.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Referensi Tulisan:</em></p>
<p style="text-align: justify;">-          Stephen C Druce, <em>The Lands West of The Lakes &#8211; History of Ajatappareng Kingdoms of South Sulawesi 1200 to 1600 CE,</em> (Penerbit KITLV-2009)<em></em></p>
<p>-          Christian Pelras, <em>Manusia Bugis</em> (Penerbit Lontar, 2006)<em></em></p>
<p>-          Ian Caldwell,<em> Power, State and Society among The Pre-Islamic Bugis, KITLV 151 (1995), no: 3, Leiden, 394-421</em></p>
<p><em>Referensi Foto:</em></p>
<p>-          Stephen C Druce, <em>The Lands West of The Lakes -</em> (Penerbit KITLV-2009) – halaman 328 &amp; 330 : Peta Sulawesi Buatan Portugis tahun 1611 dan 1633.<em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/jejak-kristen-di-tanah-bugis-abad-16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tala’ Salapang: Ihwal Sembilan Pokok Lontar Pungunjuk Damai di Makassar</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/tala%e2%80%99-salapang-ihwal-sembilan-pokok-lontar-pungunjuk-damai-di-makassar/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/tala%e2%80%99-salapang-ihwal-sembilan-pokok-lontar-pungunjuk-damai-di-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2012 11:43:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sulawesi Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=905</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sebagian orang luar mengidentikkan kekasaran orang Makassar pada nama kota dan entitas suku yang melekat pada mereka, MAKASSAR. Merujuk kepada umumnya pola bentukan kata dalam bahasa Indonesia, mereka kemudian mengeja Makassar sebagai kata “Kasar” yang diberi imbuhan me- yang menjadikannnya kata kerja aktif. Maka muncullah pemahaman bahwa Makassar secara historis dibentuk dan dihuni oleh [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_909" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2011/10/talasalapang.jpg"><img class="size-medium wp-image-909" title="talasalapang" alt="" src="http://www.daengrusle.net/wp-content/uploads/2011/10/talasalapang-300x170.jpg" width="300" height="170" /></a><p class="wp-caption-text">Tala&#8217; Salapang (dikutip dari majalahversi.com)</p></div>
<p style="text-align: justify;">Sebagian orang luar mengidentikkan kekasaran orang Makassar pada nama kota dan entitas suku yang melekat pada mereka, MAKASSAR. Merujuk kepada umumnya pola bentukan kata dalam bahasa Indonesia, mereka kemudian mengeja Makassar sebagai kata “<strong>Kasar”</strong> yang diberi imbuhan me- yang menjadikannnya kata kerja aktif. Maka muncullah pemahaman bahwa Makassar secara historis dibentuk dan dihuni oleh orang-orang yang gemar melakukan kekasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecenderungan pemahaman berbau linguistik ini dapat dipahami sesaat meski cacat sejarah. Melekatnya generalisasi bahwa orang-orang Makassar cenderung kasar dan keras, dengan mengambil sampel pengalaman-pengalaman buruk berkenaan dengan orang Makassar tentu menjadi pembenaran. Ditambah lagi dengan eksploitasi kekerasan yang disiarkan rutin oleh media massa terutama TV nasional yang ‘rajin’ meliput drama kekerasan di Makassar menjadi penguat pemahaman sesat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berada di linikala sejarah, sebuah teks tidak pernah berdiri sendiri. Sebuah teks selalu terikat pada tafsir peristiwa yang mengukuhkan. Tafsir itu kita sebut saja konteks. Konteks selalu membubuhkan pendalaman akan musabab munculnya teks tersebut. Walaupun tak jarang sebuah teks memiliki konteks yang beragam. Konteks-konteks yang beragam ini bisa saja muncul karena banyaknya penutur yang menempelkan kisah pada teks berdasarkan perspektif subyektifnya, kemudian dengan caranya sendiri sampai ke ruang baca kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-905"></span>Kebenaran konteks bisa kita saring dengan telaah historis dengan mencocokkan silsilah dan juga pemaknaan yang ada di dalamnya. Kedua hal ini, dalam agama Islam sering diaplikasikan pada telaah hadist dan disebut sebagai telaah sanad dan matan. Dalam ilmu umum kita mengenal heremeneutika, cabang ilmu yang mempelajari tentang tafsir atas teks-teks suci.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini dimaksudkan untuk mencoba membaca ulang tafsir-historis kekerasan di Makassar dan semoga menjadi semacam petunjuk jalan yang benar dan terang benderang bagi yang masih memiliki pemahaman stereotyp atau generalis tentang kekerasan yang dihubungkan dengan masyarakat kota Makassar, termasuk juga entitas suku-budayanya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Riwayat Bate Salapang, Sembilan Negeri Yang Tersumpah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sejarah peradaban Makassar dimulai pada abad 13 Masehi dengan munculnya sembilan negeri berdaulat yang menghuni wilayah yang kini menjadi habitat suku Makassar, yakni di ujung selatan pesisir Barat semenanjung Sulawesi. Sembilan negeri kecil itu yakni Tomboloq, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Dataq, Agang Jeqneq, Bissei, Kalling, dan Serroq. Masing-masing Bate’ ini dipimpin oleh raja lokal dengan struktur sosial dan adat istiadat tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Catatan mengenai keberadaan Bate Salapang mulai ditulis oleh Mr Rolph Block, dalam buku History of the islands of Celebes, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Makassar tahun 1808,</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awal berdirinya, masyarakat sembilan negeri itu hidup rukun berdampingan dengan damai. Mereka hidup dari pertanian dan perikanan, mengingat wilayah kediaman mereka berada di hamparan dataran subur bermula di lereng Gunung Bawakaraeng hingga ke barat menghadap bibir Selat Makassar, diapit Sungai Tallo di utara dan Sungai Jeneberang di selatan. Tidak mustahil bahwa antar masyarakat negeri-negeri kecil itu memilki keterikatan dan kekerabatan, baik oleh hubungan darah maupun persaudaraan karena perkawinan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sembilan negeri berdaulat ini kemungkinan juga menjalin komunikasi dan hubungan dagang dengan negeri-negeri tetangga, terutama yang masih dalam satu pulau seperti kerajaan-kerajaan awal di utara: kerajaan Luwu (masa La Galigo), kerajaan Cina (Pammana, Wajo), Mario (Soppeng) dan Siang (Pangkajene). Kerajaan-kerajaan ini merupakan kerajaan-kerajaan awal yang pernah berdiri di Sulawesi Selatan sebelum abad 13M yang kesemuanya didapat dari sumber tunggal epos La Galigo. Hubungan antar sembilan negeri Makassar dan kerajaan lainnya diperoleh dari ‘tafsir’ atas teks yang termaktub di epos La Galigo, ketika menceritakan utusan raja-raja negeri tetangga yang menghadiri upacara peresmian istana baru Luwu di Wareq: WEWANRIU, GIMA, SAWAMMEQGA, TOMPOQTIKKA, WADENG, MALOKU, SAMANG, TESSILILU, METTOANGING, TARANATI, MARAPETTANG, MARUPAPA, MALLATUNRUNG, KELLING, SUNRA RI LAU, SUNRA RI AJANG, MARENCAWA, SABURI, MEKKA RI AJANG.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa pengamat sejarah Makassar menafsirkan bahwa daerah-daerah yang disebut dalam teks La Galigo merujuk ke negeri-negeri purba Makassar: Sawammeqga (Saumata), Kelling (Kalling), dan penyebutan Mekka ri Ajang (Mekka di Barat) yang ditengarai merujuk ke Makassar yang memang letaknya di sebelah barat kerajaan Luwu. Bukan tak mungkin, nama Mettoanging yang pernah menjadi nama stadion markas tim sepakbola PSM juga merupakan nama yang merujuk ke negeri di Makassar dahulu. Meski demikian, Fachruddin Ambo Enre dalam disertasinya yang dibukukan “Ritumpana Welengrenge” (Yayasan Obor, 1999) menyatakan dugaannya bahwa Mekka adalah nama Mekkah yang dikenal sekarang sebagai tanah suci umat Islam, dan Kelling adalah nama untuk daerah Coromandel di India Selatan. Meskipun dalam bukunya tersebut, ia juga meragukan adanya persentuhan Islam dalam naskah La Galigo tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/tala%e2%80%99-salapang-ihwal-sembilan-pokok-lontar-pungunjuk-damai-di-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seikat Pelukan dan Madrasah Ibu</title>
		<link>http://www.daengrusle.net/seikat-pelukan-dan-madrasah-ibu/</link>
		<comments>http://www.daengrusle.net/seikat-pelukan-dan-madrasah-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2012 13:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daengrusle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.daengrusle.net/?p=1247</guid>
		<description><![CDATA[Sajak Pernikahan: Seikat Pelukan dan Madrasah Ibu untuk ann&#38;heru jarak terlalu jauh, juga masa terlampau lama kita tak hendak memungut keduanya, di dalam kenang cinta yang nyaris menguap karenanya kita lantas mengikatnya, seikat pelukan mungkin akan membekukan jarak, juga melelehkan waktu kau tahu, aku seumpama pelaut sendu yang mencoba berlabuh di matamu; telaga yang hendak tumpah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignnone" style="width: 550px"><a href="http://arnellisheru.wordpress.com/"><img class="  " title="Ann &amp; Heru" alt="" src="http://arnellisheru.files.wordpress.com/2012/11/cropped-arneheru3.jpg" width="540" height="130" /></a><p class="wp-caption-text">Ann dan Heru</p></div>
<p><strong>Sajak Pernikahan: </strong><strong>Seikat Pelukan dan Madrasah Ibu</strong></p>
<p>untuk <a href="http://arnellisheru.wordpress.com" target="_blank">ann&amp;heru</a></p>
<p>jarak terlalu jauh, juga masa terlampau lama<br />
kita tak hendak memungut keduanya,<br />
di dalam kenang cinta yang nyaris menguap</p>
<p>karenanya kita lantas mengikatnya,<br />
seikat pelukan<br />
mungkin akan membekukan jarak,<br />
juga melelehkan waktu</p>
<p>kau tahu, aku seumpama pelaut sendu<br />
yang mencoba berlabuh di matamu;<br />
telaga yang hendak tumpah itu</p>
<p>tapi seikat pelukan menarikku diam-diam<br />
mengubah debur ombak menjadi endapan bisu<br />
layarku terkulai dan terperangkap dalam lautan senyap<br />
aku tahu, aku takkan bisa mendayung lagi</p>
<p>tapi rentang pelukmu seperti mata ibu,<br />
madrasah yang mengajarkan seribu ciuman, sejuta pelukan<br />
aku menyebutnya tempat kembali<br />
jalan pulang paling lengang,<br />
direntang sejauh ingatanku membawanya</p>
<p>serpihan sepi yang jatuh dari jendela malam<br />
dan bulan yang sendu, melirik lirih pada seikat pelukan<br />
yang kubawa pulang, ke matamu<br />
tempat berlabuh paling rindu</p>
<p>abudhabi, 23desember2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.daengrusle.net/seikat-pelukan-dan-madrasah-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
