Pesona Historis Bukit Siguntang: Muasal Sebuah Peradaban

Pesona Historis Bukit Siguntang, Muasal Sebuah Peradaban
ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang merawat kisahnya

Taman Bukit Siguntang (sumber: terserah.byethost3.com)

ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang merawat kisahnya

Konon peradaban nusantara bermula di pesisir, bukan di perbukitan. Dari bentang pasir yang sejajar bibir lautan atau tepian sungai itu, leluhur kita memulai jejak eksistensialnya. Jejak peradaban itu terangkai kebanyakan dari kronik para pengelana yang pernah menyinggahinya. Mungkin karena renta di makan usia, atau karena tak begitu terbiasa mengabadikan kabar dalam bentuk tulisan, kita jarang menemukan jejak tulisan dari para leluhur kita kecuali sedikit saja.

Dari yang sedikit itu, perlu disyukuri bahwa ada jejak leluhur yang terawat telaten oleh alam di sebuah bukit bernama Siguntang. Peradaban yang dibangun di pesisir sungai Musi sejak abad 7M, kemudian dirawat jejaknya oleh bukit kecil ini. Ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang kemudian merawat kisahnya. Ini seumpama asmara abadi dua wajah daratan membesarkan peradaban manusia yang mendiaminya agar kekal di rentang sejarah.

Bukit Siguntang adalah sebuah jejak. Ada jejak artefak sejarah yang direkam oleh daratan yang menonjol setinggi 30meter di barat daya Palembang ini. Pesona yang sejatinya masih setia menanti untuk dipinang dalam bentuk ulasan ilmiah. Alih-alih menjadikannya sebagai tempat “keramat dengan segala horor tahayul” karena kemisteriusannya, tempat bersejarah ini sejatinya banyak memaparkan kisah memikat tentang awal sebuah peradaban besar bernama Sriwijaya.

Peradaban Sriwijaya digadang-gadang sebagai sebuah imperium multinasional pertama nusantara yang kemudian mempengaruhi tak hanya linimasa sejarah Indonesia, juga kawasan Asia Tenggara dari abad 7M hingga beratus tahun kemudian. Bahkan di masa perjuangan kemerdekaan, nama Sriwijaya juga dijadikan ikon perjuangan – bersama Majapahit untuk menunjukkan kepada pemerintah kolonial dan dunia bahwa Indonesia juga punya bakat sejarah sebagai bangsa besar mandiri yang pernah merangkum ribuan pulau dan puak dalam satu wilayah kesatuan.

Pintu Masuk Bukit Siguntang (Sumber: trijayafmplg.net)

Adalah arkeolog Prancis bernama George Coedes yang menyingkap lapisan awal dari jejak yang kelak melambungkan nama Bukit Siguntang. Dalam sebuah jurnal ilmiah École française d’Extrême-Orient di tahun 1918, dia memaparkan sebuah riset ilmiah tentang sebuah imperium Sriwijaya. Kemudian dimulailah penelusuran sejarah untuk meretas hikayat peradaban besar ini, dengan episentrumnya di Bukit Siguntang. Dua tahun kemudian, tahun 1920, seorang arkeolog Belanda bernama M Batenburg menemukan jejak prasasti di Kedukan Bukit, sekitar Siguntang, yang menegaskan riwayat awal Sriwijaya, yang kelak juga ditahbiskan sebagai gong kelahiran kota Palembang.

Bukit Siguntang, Bukit Artefak

Prasasti Kedukan Bukit (Sumber: Wikipedia)

Hampir keseluruhan permukaan bukit ini adalah artefak. Artefak seumpama saksi sejarah yang hendak menceritakan kabar tentang peradaban masa lalu kepada kita yang hidup ribuan tahun setelahnya. Dimulai dari kaki perbukitan yang mewariskan dua prasasti kuno Kedukan Bukit (bertarikh 682) dan Talang Tuwo (684). Dari lereng bukit ditemukan pecahan-pecahan keramik dari masa dinasti T’ang dan Sung awal (abad 7-10M). Beranjak ke atas menuju puncak bukit, ada temuan arca Buddha berlanggam Amarawati,  reruntuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, arca Bodhisattwa batu, arca Kuwera, dan arca Buddha Wairocana dalam posisi duduk lengkap dengan prabha dan chattra. Ada juga pecahan fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno, sebuah bukti tertulis yang menceritakan peperangan dan pesan moral dari persitiwa itu.

Kompleks makam di Bukit Seguntang (Sumber: Wikipedia)

Di puncak bukit, yang kemudian menjadi tempat ziarah dan magnet ketertarikan pengunjung, ada kompleks pemakaman yang dipercaya menyimpan jasad para pembesar kerajaan Sriwijaya dan Melayu. Di sini terdapat tujuh makam yang padanya direkatkan nama-nama; Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Junjungan, Panglima Bagus Kuning, dan Panglima Bagus Karang.

Sebagian mitos yang merujuk ke kitab Sulalatus Salatin (kronik silsilah raja-raja Melayu berabjad Jawi yg ditulis abad 16) menyebutkan bahwa Bukit Seguntang ini merupakan tempat petilasan Sang Sapurba, yang dipercaya sebagai keturunan Raja Agung dari Macedonia: Iskandar Zulkarnain, yang kisahnya diceritakan juga dalam al-Quran. Sang Sapurba dianggap menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya. Juga, bukit Siguntang diibaratkan sebagai potongan Gunung Mahameru dalam kepercayaan Hindu-Buddha, dan dianggap suci karena menjadi habitat cikal bakal orang-orang Melayu.

Kawasan Wisata Bukit Siguntang (Sumber: komhukum.com)

Sedemikian banyak artefak beserta kandungan kisah sejarah yang ditemukan, menjadikan bukit ini sebagai bukti penting akan kejayaan peradaban Sriwijaya di masanya. Sumber lain dari catatan perjalanan pendeta China I Tsing tahun 671 dan 695 yang menyinggahi Sriwijaya menyebutkan bahwa bukit ini pernah menjadi semacam padepokan pusat pendidikan agama Buddha. Pada abad ke-9 bahkan tercatat ada 1000 orang pendeta Buddha berguru pada Maha Guru Suvarnadvipa Dharmakirti.

Satu hal yang perlu disadari oleh masyarakat kita bahwa warisan Sriwijaya yang paling melekat hingga kini adalah warisan bahasa Melayu yang mulai dipakai di zaman Sriwijaya sebagai bahasa pasar/pergaulan di daerah-daerah kekuasaannya, terutama di pelabuhan-pelabuhan yang menjadi tempat pertemuan berbagai suku bangsa nusantara. Bahasa ini kemudian mengejawantah menjadi bahasa Indonesia yang dipakai hingga kini, setelah mengarungi berbagai zaman hingga 1330 tahun lamanya.

Peta Kekuasaan Sriwijaya abad 10-11M (Sumber: usuarios.multimania.es)

Sebuah Bukit, Beragam Pesona

Bukit Siguntang yang rindang dan sejuk selayaknya menjadi sebuah tujuan wisata yang eksotik bagi warga sekitar ataupun pengunjung dari luar. Sebuah bukit yang memendam banyak pesona ini layak untuk dijadikan salah satu tujuan wisata unggulan, terlebih karena letaknya hanya sekitar 4 km dari pusat kota Palembang. Jalur transportasi menuju tempat ini sudah cukup memadai sehingga yang diperlukan hanyalah promosi yang gencar untuk lebih menarik pengunjung.

Selain perlu untuk lebih menata bukit ini agar tak nampak sebagai hutan belantara tak terurus, pihak pengelola juga perlu untuk memberikan asupan informasi terutama mengenai sejarah artefak-artefak yang ada di perbukitan ini. Sebagai salah satu saksi muasal peradaban Sriwijaya, bukit ini layak menjadi episentrum pengetahuan arkeologis. Apalagi ditengarai bahwa masih banyak artefak lain yang mungkin bertebaran di sekitar bukit yang indah ini. Juga makam-makam yang terdapat di puncak bukit ini perlu ditelusuri riwayat sejarahnya secara ilmiah, agar tak terkubur begitu saja dengan berbagai mitos dan takhayul yang mengaburkan nilai sejarahnya.

Sebagai situs sejarah, Bukit Siguntang tentu menarik untuk ditelusuri. Tak hanya arkeolog dan sejarahwan domestik saja, namun mungkin saja ilmuwan luar negeri tertarik untuk menggali lebih dalam kandungan sejarahnya. Apalagi diketahui bahwa beberapa peradaban Asia Tenggara semisal Khmer, Myanmar, Pattani bahkan China dan India punya keterkaitan historis dengan bukit ini.

Adalah sangat penting untuk lebih menggali pesona historis bukit ini, dengan menjadikannya sebagai pusat studi alam yang tentu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sejarah adalah memori kolektif bangsa, karena itu artefak sejarah ibarat kitab yang menunggu untuk dimaknai lebih jauh, lebih dalam, demi menggali perbendaharaan budaya bangsa yang kian lama kian terkikis modernisasi yang makin menjauhkan dari jati diri sejati bangsa ini.

Banner Lomba Blog:

Kompetisi Blog Pesona Sumatera Selatan


hanya blogger udik yang senang menikmati sejarah dan merayakan jurnalisme warga. Lahir di dusun Impa-Impa Sempangnge Wajo, menetap di Cibinong Bogor dan kini menjadi TKI di Abu Dhabi, Uni Emirate Arab. Alamat email: daengrusle[at]gmail[dot]com. akun twitter @dgrusle – sila follow

Share This Post

Recent Articles

19 Responses to “Pesona Historis Bukit Siguntang: Muasal Sebuah Peradaban”

  1. giewahyudi says:

    Jujur saya belum familiar dengan nama Bukit Siguntang, entah karena keterbatasan wawasan saya atau mungkin kurang populer..
    Tapi sejarah tentu tidak bisa ditinggalkan begitu saja, sejarah panjang bangsa kita tentu harus kita jaga. Kalau bukan kita siapa yang akan menghargai kisah perjuangan para nenek moyang kita?

    • daengrusle says:

      padahal kita berbahasa indonesia ini, asal muasalnya justru dari bahasa melayu yg diperkenalkan dari peradaban Sriwijaya yg berpusat di bukit ini :)

  2. anbhar says:

    baru tau klo bukit siguntang itu di sumsel hehehe…
    kalau dengar namanya sering, familiar karena dijadikan nama salah satu armada kapal pelni :D yah sesuai kebiasaan pelni menggunakan nama2 gunung di Indonesia.

  3. erwin says:

    iyya, perlu lebih digali lebih dalam kisah peradaban masa lalu di bukit ini, jika perlu bisa juga melihat terbentuknya secara geologi.., pasti akan lebih lengkap dan menarik :)

  4. Terpana sy sama tulisan ini. Ternyata utk lomba blog.

    Tapi yg sy tau soal bukit siguntang: kapal pelni. :))

    • daengrusle says:

      hehehe….sekali menelisik sejarah, sekalian ikut lombanya….lomba hanya perahu, tapi samuderanya adalah tulisan itu sendiri…

  5. padahal saya berharap postingan dari khasanah lagu melayu palembang belaa hehe :)

    • daengrusle says:

      haha…iniji kodong yang sa tahu…:)
      itupun karena dulu suka “menumpang” di geladaknya Bukit Siguntang

  6. erni says:

    Kalo sy jd jurinya,tulisan ini yg no satu….membuat bangga jd org indonesia yg kaya sejarah….

  7. dy says:

    kunjungan pertama ke blognya daeng. :) oya, ijin menggunakan foto untuk dimana ya?

  8. yongki coy says:

    jadi pusing nih .jadi siapa sebenarnya yang menguasai bukit siguntang,karena dari berbagai versi yang saya baca membingungkan

  9. daengrusle says:

    sejarah memang mengandung banyak versi. tapi beragam versi itu bukan untuk diperlawankan, sebaiknya untuk saling melengkapi.
    seperti linimasa, suatau saat akan kelihatan alur sejarah dengan bentang yang runut. itulah mungkin yg bisa dianggap mendekati kebenaran…

    “mungkin”..

  10. Imamu Hidate says:

    Luar biasa. Tulisan dengan gaya yg puitis dan mengalir. Sy ingin sekali punya tulisan seperti kakak. kunjungi tulisan trbaru sy kak, sy menunggu sran dan kritikan dr kakak atas tulisan trsebut. http://imamuhidate.blogspot.com/2012/06/indonesia-ujung-tombak-green-blue.html

  11. andika says:

    sy terlahir didaerah bukit siguntang dan memang betul disitu terdapat makam raja2 palembang, hanya sayang waktu itu makam tersebut hanya bongkahan batu belum dipugar spt sekarang ini, dulu ketika sy masih kecil sering mengambil buah rukam yang banyak disekitar makam tersebut, dulu daerah tersebut tidaklah angker spt skarang ini yang sekarang ini banyak ditambahi mitos yang menyeramkan, tp kalau dulu tidaklah demikian.

  12. Mas numpang tanya yah itu gambar danau bagian atas itu bagian mananya bukit siguntang yah ? Soalnya sa y a ini sudah lama di palembang tapi kok ga pernah liat danau itu ? Trus pertanyaan kedua catatan sejarah mana yang menunjukan bahwa didalam makam memang benar ada dan berisi tubuh para legenda ? Trus yang ketigaapa benar memang di sana itu tempat pertama adanya misi penggalian arkeologi mengenai para legenda tersebut . Trims

Leave a Reply

© 2014 daengrusle. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie