We Tenri Olle: Penggali Epos Lagaligo dan Kiprahnya Yang Senyap Di Lintas Sejarah (3)

Menemukan Kembali Epos Lagaligo

Lamanya masa pemerintahannya yang lebih dari separuh abad, memungkinkan We Tenri Olla untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, terutama dalam pendidikan dan penggalian sastra klasik La Galigo. Dengan di inisiasi oleh BF Matthes, peneliti Belanda yang diutus oleh Nederlandsch Bijbelgenootschaap, sebuah lembaga peneliti kitab-kitab kuno, dan Tjollie Poedjoe, yang tak lain dari ibunda We Tenri Olla sendiri, perempuan cerdas itu kemudian mengumpulkan manuskrip-manuskrip La Galigo yang terserak dalam bentuk daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak kalangan Bugis.

Dikatakan keramat, karena anggapan masyarakat Bugis saat itu bahwa cerita Lagaligo bukan saja hanya sekedar epos, tapi juga merupakan petuah leluhur (to Riolo) yang mengandung samudera hikmah kehidupan dan karenanya layak dikultuskan. Belum lagi ketinggian bahasa perumpamaan yang tersirat di antara larik-larik aksara Bugis Kuno yang hanya segelintir orang yang mampu menggali maknanya. Di banyak tempat, manuskrip yang biasa juga disebut lontarak ini disimpan secara khusus, dalam kain putih dan diberi dupa-dupa. Untuk membukanya dibutuhkan upacara ritual yang sakral, dipimpin oleh dukun atau seorang Bissu, manusia transgender yang dipercaya memiliki kemampuan magis berhubungan dengan dewata. Selain itu, tak banyak orang bugis yang mampu memahami bahasa asli LaGaligo, yang merupakan bahasa bugis Kuno.

Kemampuan we Tenri Olla membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam bait-bait sajak epos La Galigo, yang tersusun dalam 300,000 larik dalam cerita berangkai itu membuat pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah. Dibantu oleh dua perempuan ibu dan anak ini, BF Matthes kemudian menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara Bugis dan terjemahan bahasa Belandanya dalam buku: Boeginesche Chrestomathie Jilid II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.

Menurut BF Matthes, peran We Tenri Olla dan ibunya Collie Pudjie, sangat signifikan dalam memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar. Tanpa peran keduanya, mungkin epos ini akan lama terpendam dalam bilik-bilik senyap di istana-istana raja-raja Bugis hingga keruntuhannya. Meskipun demikian, upaya keras mereka hanya mampu membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini, dan berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan pelestari karya sastra lokal bugis ini.

Senyap Di Lintas Sejarah

Sitti Aisyah We Tenri Olle memang bukanlah seorang selebritis di lintas sejarah nusantara. Namanya hanya dikutip sesekali, terutama bagi yang hendak meneliti mengenai sejarah penulisan LaGaligo. Kisah hidupnya senyap tanpa banyak mengundang kekaguman dalam bentuk tetulisan yang tersebar di buku sejarah. Bahkan, namanya pun tak begitu dikenal di masyarakat lokal Bugis saat ini yang lebih banyak didominasi oleh nama-nama pahlawan perang macam Sultan Hasanuddin atau Arung Palakka.

Di daerahnya di Pancana Tanete Ri Lau, Kabupaten Barru, namanya hanya dikenal dari sebentuk bangunan makam megah berwarna putih berbentuk kubah berciri arsitektur Eropa. Tidak banyak yang tahu detail kisah hidupnya selain bahwa perempuan cerdas ini pernah menjadi Penguasa Tanete di akhir abad 19. Namanya jauh dari sentuhan literature, penelusuran mesin pencari di internet hanya menemu 167 tautan untuk kata kunci “We Tenri Olle Tanete”, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan RA Kartini yang memuat 1,080,000 tautan dan Dewi Sartika dengan 2,100,000 tautan. Ironisnya, tak ada yang bisa menjejak tahun kelahiran perempuan yang mungkin menjadi penguasa paling lama di antara kerajaan-kerajaan nusantara silam.

Padahal, kontribusi aktif We Tenri Olle memajukan pendidikan jauh lebih mula dan lebih luas daripada dua srikandi Jawa itu. Dengan inisiatif dan dana sendiri, perempuan Bugis ini mendirikan sekolah formal untuk semua kalangan di Tanete, bukan saja hanya diperuntukkan untuk perempuan. Dia mendudukkan laki-laki dan perempuan di bangku yang sama, menerima pengajaran yang sama. Dia memaknai emansipasi dalam bentuk hakiki tanpa merasa jengah dengan pembedaan jenis kelamin. Keperintisannya dalam pendidikan pun sama nasibnya dengan

Seorang sosiolog terkemuka yang juga Guru Besar UI, Prof Harsja Bachtiar bahkan sempat mempertanyakan mitos pengkultusan RA Kartini dalam sejarah nusantara, sementara di belahan nusantara lain ada sosok seperti We Tenri Olle yang justru lebih berhasil dan lebih bergaung ke masyarakat banyak. Prof Harsja Bachtiar memerlukan untuk memperkenalkan nama We Tenri Olle sebagai sosok alternative pembanding yang lebih kuat karakter pengabdiannya, baik di bidang pendidikan maupun kesusasteraan.

Satu-satunya cacat, jika kita menyepakati sebagai cacat, seorang We Tenri Olle adalah sikapnya yang kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Dia bahkan mendapat penghargaan dari Belanda atas sikap netralnya dalam perang Belanda melawan raja-raja Bugis di Pare-pare tahun 1905. Selain itu, meski piawai membaca dan menerjemahkan ulang epos LaGaligo, We Tenri Olle sendiri tidak pernah menghasilkan karya tulisan sendiri sehingga menambah kesenyapan namanya di lintas sejarah. Meski demikian, kita-lah yang wajib menemukan kembali sejarah tentang pahlawan-pahlawan sejati yang pernah dilahirkan bumi nusantara, apalagi seorang perempuan serba bisa semacam Siti Aisyah We Tenri Olle, penguasa Tanete separuh abad, pemula pendirian sekolah modern di Tanete, dan penggali sastra klasik La Galigo.

Sumber Foto dan tulisan:

http://melayuonline.com/ind/personage/dig/347/siti-aisyah-we-tenri-olle

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Barru

http://sejarah.kompasiana.com/2010/09/17/we-tenriolle-dari-tanette/

http://www.budaya-sulsel.com/index.php/barru/79-kompleks-makam-we-tenri-olle

http://www.majalahversi.com/artikel/prinsip-kepemimpinan-politik-manusia-bugis

selesai.


hanya blogger udik yang senang menikmati sejarah dan merayakan jurnalisme warga. Lahir di dusun Impa-Impa Sempangnge Wajo, menetap di Cibinong Bogor dan kini menjadi TKI di Abu Dhabi, Uni Emirate Arab. Alamat email: daengrusle[at]gmail[dot]com. akun twitter @dgrusle – sila follow

Share This Post

Related Articles

5 Responses to “We Tenri Olle: Penggali Epos Lagaligo dan Kiprahnya Yang Senyap Di Lintas Sejarah (3)”

  1. inimi akar sejarahnya Sulsel….

    kubaca perlahan2 dulu daeng

  2. indobrad says:

    saya tidak kaget jika beliau tidak masuk dalam jajaran ‘selebritis’ nusantara; penentuan gelar pahlawan nasional memang semata-mata ditentukan oleh peran perjuangannya melawan penjajah. dari sisi ini, We Tenri Olle ‘cacat’. Namun mungkin begitulah cara beliau membela kaumnya secara cerdik cendekia.

    Terima kasih atas sharingnya :D

  3. giewahyudi says:

    Rasanya saya pernah membaca nama We Tenri Olle di Kompas dalam sebuah artikel tentang La Galigo ini, tapi miris juga ya kalau di kalangan Bugis sendiri kurang dikenal..
    Semoga kita bisa membangkitkan kembali nama-nama orang berjasa seperti We Tenri Olle ini..

  4. Harusnya Kartini juga “cacat” dong? Karena kartini kan dikenal karena aktivitas surat-menyuratnya dengan orang di Belanda. :D

    • daengrusle says:

      Betul…kartini juga cacat, bahkan malah ada keraguan besar apakah betul dia sendiri yg menulis surat2nya.

      Ada yg menyangka itu hanya rekayasa dari Abendanoon, krn hingga detik ini tdk bisa ditemukan surat2 asli Kartini yg membuat dia jadi terkenal. Yg ada hanya saduran di bukunya Abendanon itu…:)

      Saya pernah nulis postingan di blog ini juga berjudul: “Kontroversi Kartini Kita”..

Leave a Reply

© 2014 daengrusle. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie